Google Groups Untuk berlangganan 'lightbreakfast', silahkan masukkan alamat email Anda dan klik tombol 'Berlangganan' sekarang!
Email:
Browse Archives at groups.google.com

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Fokus. Show all posts
Showing posts with label Fokus. Show all posts

Keder

"Lihat bolanya, bukan siapa yang menendangnya." - Asa

Anak perempuan saya, entah kenapa menyukai olahraga sepakbola. Ia tak pernah kehilangan semangat untuk cerita soal tim sepakbola-nya di sekolah (jangan dibayangkan seperti klub bola sungguhan, karena yang ia ceritakan adalah permainan mereka sewaktu istirahat sekolah). Apa yang ia sampaikan tak kalah dengan ulasan komentator profesional di televisi. Cara ia menganalisa kekuatan dan kelemahan lawan, bagaimana menyusun komposisi dan strategi menyerang berdasarkan kekuatan tim yang ia miliki, benar-benar yak-yako. Hebatnya, tim yang ia pimpin mayoritas cowok.

"Hari ini Asa menang tiga kosong melawan tim Aldo, Pa!" katanya suatu ketika dengan pakaian basah penuh keringat, rambut acak-acakan dan tali sepatu terburai nggak karuan.
"Oh ya? Hebat dong."
"Tahu nggak kenapa Pa? Asa tahu sekarang kelemahan Kristin ..." anak yang disebut Asa ini cewek tetapi mempunyai tubuh yang bongsor. Sebelumnya ia pernah cerita tentang anak itu, bahwa banyak teman-teman satu timnya, cowok maupun cewek, yang kesulitan menghadang dan mengimbangi permainannya.
"Ternyata, kekuatannya ada di kaki kirinya! Makanya kalau dia menyerang selalu dari sisi kiri. Asa bilang sama anak-anak supaya diusahakan bola digiring di sisi kanan dia ... berhasil. Tak berkutik dia, nggak pernah bikin gol!"
"Oh ya?"
"Terus ada lagi Pa."
"Apa itu?"
"Marco, kiper Asa, kali ini mengalami kemajuan pesat."
"Emang kenapa?" saya berusaha meladeni omongannya, meski kadang-kadang merasa geli memperhatikan tingkahnya.
"Dia itu sangat takut sama tendangan Aldo."
"Emang kenapa tendangan Aldo?"
"Dia itu super Pa! kalau menendang ... keras buanget Pa!"
"Kiper kan nggak boleh takut bola?"
"Itu dia Pa!"
"Jadi apa yang kamu lakukan?"
"Asa kasih tahu dia, supaya konsetrasi. Yang penting lihat bolanya, bukan siapa yang menendangnya ... buktinya, dia berhasil tidak kebobolan ..."
"Hm, hebat juga kamu!" dalam hati saya mencatat kata-katanya.

Di luar permainan bola, dalam praktek kehidupan sehari-hari, apa yang Asa katakan itu sangat relevan. Seringkali kita merasa keder, minder atau takut untuk memulai sesuatu karena kita sebenarnya risau terhadap 'siapa' yang akan kita hadapi, bukan fokus kepada persoalan atau masalah itu sendiri. Kita terlalu khawatir terhadap banyak hal sehingga justru kehilangan energi untuk mengerti dan memahami masalah, apalagi lalu menemukan solusi yang tepat. Oleh sebab itu jangan terlalu risau terhadap 'siapa' yang kita hadapi, tetapi fokuslah terhadap apa yang kita kerjakan. Lihat bolanya, bukan siapa yang menendangnya, kata Asa.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Ruwet

"Tidak ada persoalan yang tidak bisa dipecahkan. Keruwetan masalah lebih banyak diakibatkan oleh kerumitan pikiran kita sendiri."

Ada sebuah cerita --barangkali lebih tepat anekdot-- yang singgah ke mailbox saya beberapa tahun lalu. Cerita ini menjadi salah satu cerita kesukaan saya. Tentang bagaimana sekelompok ahli sebuah lembaga internasional terkecoh dengan kerumitan pemikiran mereka sendiri.

Alkisah, dalam rangka program pengiriman pesawat berawak ke antariksa, NASA melakukan berbagai macam persiapan. Salah satu problem yang segera harus dipecahkan adalah alat tulis yang akan digunakan para astronaut di luar angkasa. Ballpoint biasa yang ada sekarang ini tidak akan bisa digunakan dalam kondisi gravitasi nol. Proyek besar untuk menciptakan dilakukan dan NASA bekerja sama dengan Andersen Consulting untuk melakukan riset. Mereka menghabiskan dana sebesar 12 juta dollar untuk menciptakan sebuah pen yang akan bekerja dengan baik dalam kondisi gravitasi nol, dalam kondisi terbalik, bisa tetap menulis dalam air dan tahan terhadap suhu yang ekstrem, baik dalam suhu beku maupun panas 300 derajat celsius!

Akan halnya dengan Rusia yang juga mempunyai program serupa, mereka tidak "seheboh" NASA. Mereka cukup membekali para astronaut mereka dengan pencil! Karena pencil akan tetap berfungsi sebagai alat tulis yang baik dalam berbagai kondisi yang diprediksikan di luar angkasa. Termasuk dalam keadaan gravitasi nol dan suhu yang ekstrem! Betapa murahnya dibandingkan riset seharga 12 juta dollar yang dilakukan NASA!

Kita bisa belajar dari cerita di atas. Pertama, ada kecenderungan manusia modern berpikir terlalu kompleks sehingga melupakan hal-hal sederhana yang sebenarnya bisa dilakukan; kedua, cerita juga di atas menunjukkan bagaimana bahayanya kalau orang terjebak ke pola pikir "problem oriented" bukan "solution oriented". Pola pikir "problem oriented" akan menyeret kita ke dalam permasalahan secara detil dan melupakan fokus kepada bagaimana memecahkan persoalan itu sendiri. Jangan pernah mau terseret dan hanyut ke dalam persoalan, tetapi hadapi persoalan yang ada dengan tetap fokus kepada bagaimana menyelesaikannya.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Penting

"Sesuatu yang penting menjadi tidak penting bila berubah menjadi kepentingan."

Seorang teman senewen ketika dalam satu hari ia menerima 5 email sekaligus dari pengirim yang berbeda, tetapi dengan subject sama-sama menggunakan kata sakti: "URGENT - ACTION REQUIRED". Yang membuat kesal adalah, semua permintaan itu tidak lah penting. Tiga email meminta klarifikasi sesuatu, satu meminta approval dan satu lagi merupakan permintaan pre-class assesment (360 degree feedback) dari rekannya yang hendak mengikuti training. Sementara ia sendiri punya jadwal padat dengan beberapa customer hari itu.
"Heran, kok semua bisa bilang urgent. Kalau nggak dikerjakan bisa dibilang menghambat pekerjaan banyak orang, kalau dikerjakan urusan yang lebih penting, ketemu customer, bisa ketunda!" teman saya ngedumel.

Dalam pekerjaan sehari-hari, kita akan selalu dihadapkan pada masalah konflik antara pekerjaan yang sifatnya urgent - mendesak, dengan pe kerjaan lain yang penting sifatnya. Kebanyakan kita akan justru lebih mengutamakan pekerjaan yang urgent karena mendesak untuk dilakukan, meski tidak begitu penting. Misalnya, kita memilih kerja lembur di kantor di hari Sabtu daripada antar jemput anak sekolah. Pekerjaan kantor memang mendesak dilakukan, tetapi mengantar dan menjemput anak ke sekolah adalah sesuatu yang penting dilakukan, apalagi di hari-hari biasa kita jarang ketemu dan bersama-sama dengan mereka.

Bagaimana dengan hal yang "urgent" sekaligus "penting"? Bahasa Indonesia mempunyai istilah "genting" (bisa dicek di sejarah bahasa, apakah kata GENTING berasal dari gabungan kata "urGENT" dan "pentING") yang berarti memang penting untuk segera dilakukan sesuatu karena sifatnya gawat, darurat, a tau "keadaan memaksa". Apabila situasi ini yang sering terjadi pada kehidupan kita, maka keadaan Anda benar-benar tidak sehat. Kenapa? Keadaan genting tidak memungkinkan kita memilah-milah lagi apakah ini urgent atau penting. Keadaan genting menuntut kita untuk segera melakukan sesuatu tanpa kesempatan untuk berpikir yang cukup.

Untuk menjadi manusia yang efektif --menurut 7 habits-- kita harus senantiasa fokus kepada hal-hal yang penting, bukan menjadi "pemadam kebakaran" hal-hal yang mendesak (urgent). Mari kita periksa diri kita sendiri. Kalau Anda selama ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengerjakan hal-hal yang mendesak, Anda harus segera keluar dari situasi itu dan m encoba fokus kepada hal-hal penting lainnya. "Sibuk! Nggak ada waktu buat olahraga!", "Nggak sempat baca koran!" adalah ungkapan khas orang-orang yang sudah terjebak dalam pola urgent-minded. Begitu banyak hal mendesak yang harus dilakukan, padahal olahraga dan baca korang adalah hal yang penting untuk dilakukan! Fokuslah kepada hal-hal yang penting tanpa harus terjebak menjadikannya sebagai sebuah kepentingan semata. Sesuatu yang penting menjadi tidak penting kalau sudah menjadi sebuah kepentingan. Sesuatu yang penting itu adalah sebuah kebutuhan dan keperluan, bukan semata-mata kepentingan. Kebutuhan dan keperluan itu jelas, tetapi kepentingan itu tergantung siapa yang memilikinya serta untuk apa kepentingan itu dilakukan.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Sempat

"For the most part, we are too busy doing just about everything, that means just about nothing, to just about nobody, just about anywhere ... " - Mathew Kelly, The Rythm of Life

Kata "sempat" dan "sempit" hanya dibedakan oleh satu huruf "a" dan huruf "i", tetapi bukan berarti kedua kata itu mempunyai arti yang berdekatan. Kalau pun mau di cocok-cocokan, dua kata itu mempunyai nuansa situasi yang mirip, yaitu situasi keterbatasan. Tengoklah dua pernyataan ini (1) "Waduh, saya nggak sempat makan siang!" ; atau (2) "Ruangan ini saya rasa terlalu sempit ya?!" Dua kalimat itu menunjukkan sebuah kondisi keterbatasan dimana dalam contoh pertama menunjukkan keterbatasan waktu, dan yang kedua menunjukkan keterbatasan tempat.

Kata "sempat" dan "sempit" menjadi kata yang semakin akrab di kalangan manusia moderen. Tidak sempat, menunggu kesempatan, waktu saya sempit, ukuran kamar terlalu sempit, bahkan uangkapan 'mengambil kesempatan dalam kesempitan' menjadi lebih sering kita dengar. Manusia moderen menjadi sangat sibuk, sehingga kesempatan baik menjadi barang langka, di pihak lain ruang gerak mereka jauh menjadi lebih sempit. Kutipan yang saya ambil dari buku The Rythm of Life di atas menggelitik kesadaran kita, bahwa dalam banyak hal kita menjadi terlalu sibuk dengan segala sesuatu, padahal semuanya itu nothing! Kita bilang tidak sempat makan, padahal karena memang kita terlalu rebyek menggunakan banyak waktu justru untuk memasak dan menyiapkannya, atau terlalu sibuk memilih restoran dan dengan siapa kita mau makan. Kita tidak sempat berolah raga, bukan karena tidak ada waktu, tetapi urusan mendaftarkan diri ke Fitness Centre atau klub olah raga telah menyita banyak waktu kita. Betapa kita ini memang sibuk dengan sedala sesuatu yang sebenarnya justru sekedar akseoris perilaku dan gaya hidup!

Hari ini, cobalah Anda untuk memfokuskan diri terhadap apa yang akan menjadi maksud dan tujuan kita sebenarnya, dan tidak menggunakan banyak waktu Anda justru hanya untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya bukan kegiatan utama.

Selamat pagi, selamat bekerja g

Tulisan terbaru lightbreakfast juga bisa Anda dapatkan melalui layanan email langsung dengan cara subscribe melalui panel Google Group yang tersedia di bagian bawah halaman ini.
© 2006, 2007 Setya Rahadi. Lightbreakfast, adalah catatan perenungan pribadi dengan pesan-pesan singkat, universal dan konstruktif untuk teman minum kopi di pagi hari. Layaknya fast-food, silahkan menyantapnya di tempat atau mengunduh - take away isi blog ini sesuka Anda. Cantumkan sumber apabila Anda mengutip dan mengirimkan ke pihak lain. Kisah-kisah yang dituliskan dalam lighbreakfast diilhami oleh penggalan kisah nyata sehari-hari, dengan penyesuaian seperlunya. Kadang nama tempat atau nama orang ditulis apa adanya, tetapi dalam banyak hal, untuk kepentingan privacy, nama tempat atau nama orang tidak disebutkan secara gamblang. Nama samaran banyak dipakai demi enaknya cerita. Mohon maaf untuk kesamaan tokoh, tempat dan cerita yang mungkin terjadi.