Google Groups Untuk berlangganan 'lightbreakfast', silahkan masukkan alamat email Anda dan klik tombol 'Berlangganan' sekarang!
Email:
Browse Archives at groups.google.com

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Kebersamaan. Show all posts
Showing posts with label Kebersamaan. Show all posts

Budi

"Sesungguhnya tidak ada yang terlalu besar dan terlalu sepele untuk sebuah perbuatan baik."

Pernah nonton film berjudul Pay it Forward, film yang dibintangi oleh Kevin Spacey, Helen Hunt dan Haley Joel Osement? Kalau belum, sempetin deh nonton. Saya tidak tahu apakah di jual DVD-nya sekarang, tapi kalau pun susah mendapatkannya, Anda bisa pergi ke rental untuk pinjam barang semalam untuk ditonton bersama keluarga di rumah. Kalau tidak salah saya juga pernah menyinggung-nyinggung film ini beberapa waktu lalu. Dan saya memang tidak bosan-bosan merekomendasikan film ini sebagai salah satu tontonan keluarga yang paling baik.

Pay it Forward didasarkan novel dengan judul yang sama ditulis oleh Chaterine Ryan Hyde yang juga menulis Funeralas of Horse dan Earthquake Weather. Dari sebuah peristiwa kecelakaan mobil lalu ditulis menjadi sebuah novel, dibuat film dan videonya, dan sekarang sudah menjadi sebuah gerakan dan bahkan yayasan khusus dibentuk.

Apa sih Pay it Forward? Sederhana, novel dan film ini mengajarkan prinsip kepada kita bahwa daripada membayar hutang budi kembali kepada orang yang sudah berbuat baik kepada kita, sebaiknya kita membayarnya dengan melakukan perbuatan baik yang setimpal kepada 3 orang lain di sekitar kita. Demikian pula 3 orang yang sudah menerima bantuan / perbuatan baik kita, masing masing akan melakukannya juga untuk 3 orang lain, sehingga tercapai rantai multiplikasi perbuatan baik yang tak terputus. Dunia akan dipenuhi dengan perbuatan baik pada akhirnya. Bagus bukan?

Kita semua tentu merasa bahagia apabila kita bisa melakukan sesuatu untuk sesama. Sekecil apa pun itu, karena sesungguhnya tidak ada yang terlalu besar atau terlalu sepele untuk perbuatan baik. Ketika saya menuliskan kisah kakek penjual papan cuci kayu di Pondok Indah tahun lalu, banyak sekali respon masuk ke mailbox saya, dari yang sekedar mengiyakan sering melihat si Kakek, sampai yang mempertanyakan "ending" tulisan saya, "Kok cuma titip salam?".
Saya memang tidak melakukan sesuatu untuk si Kakek. Yang saya bisa lakukan menuliskannya, menceriterakannya kepada Anda semua. Hanya itu. Selebihnya, saya percaya akan ada tangan-tangan yang kemudian bekerja melakukan sesuatu. Termasuk barangkali banyak orang yang kemudian membeli papan cuci kayu si Kakek. Kutipan email ini di bawah ini salah satunya. Atas ijinnya yang bersangkutan saya mengcopy-paste dari email yang dikirimkan ke saya:
".... Ketika itu ibu saya punya nazar , apabila dapet rezeki ingin memberikan sebagian kecil kepada kakek dan nenek yang ada di jlan kartika utama ( wkt itu saya tidak memperhatikan ).Akhirnya terlaksana juga nazar tersebut... ketika itu saya diantar ibu saya ke kantor, kebetulan kantor saya di radio dalam, sangat dekat dari rumah.....dan waktu itu memang kakek& nenek tersebut sedang duduk di jalan itu.... Kemudian mobil kami berhenti dan ibu saya memberikan..yaaaahhhh gak banyak lah... mungkin hanya cukup untuk makan mereka selama seminggu saja.....tapi yang penting niat ibu saya ikhlas.

Ibu saya memberikan uangnya kepada kakek tersebut.... tapi si kakek diem saja, yang menghampiri mobil kami hanya si istri.....( sepertinya si kakek buta, kasian ya... ) tapi hari itu ibu saya gembira sekali... Akhirnya niat beliau terlaksana juga...

Dan saya pun berniat seperti itu....dan alhamdullah setelah gajian awal bulan juli
ini bisa juga memberikan hanya sebagian kecil untuk kakek & nenek ....


Sekali lagi, tidak ada yang terlalu besar atau terlalu sepele untuk sebuah perbuatan baik. Just do it. Lakukan. Anda tidak perlu berpikir panjang untuk melakukan sesuatu yang baik. Terlebih perbuatan baik Anda itu tidak sekedar balas budi kepada orang yang telah berbuat baik kepada Anda. Karena mereka barangkali tidak memerlukannya ... saya percaya banyak orang lain justru yang membutuhkan bantuan Anda. Pay it forward!

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Keluarga

"Ada berbagai jenis tanggungjawab, demikian pula bobotnya. Ketika Anda memutuskan untuk menikah dan membina keluarga, Anda telah mengambil tanggungjawab terbesar dalam hidup."

Menjelang berakhirnya liburan sekolah awal tahun ini, seorang ibu menemukan secarik kertas penuh dengan coret-coretan limpahan emosi di meja belajar anak perempuannya. Sesuatu yang sedikit mengejutkan tetapi juga mengharukan ia baca dari tulisan tangan anak kelas 3 SD itu.

Ia menunjukkan coretan itu ke suaminya sepulang kantor. Sang suami tertegun, " ... hari ini ... papa pergi ke kantor tapi nggak bilang-bilang sama aku, kemarin papa nggak bilang apa-apa ke aku, nggak bilang cutinya habis, ada con-call, ada rapat dan lain-lain (gambar muka sedih). Kemarin papa cuma bilang nyerahin foto ke kantor imigrasi terus langsung pulang (gambar muka sedih lagi), hiks hiks hiks ... Dani (adiknya) untungnya udah agak baikan, tapi sakit giginya mama terus berlanjut (gambar muka sedih lagi) ..." Seterusnya, gambar-gambar yang ia coretkan menunjukkan betapa sisa liburannya terasa sepi baginya.

Suami-isteri itu saling berpandangan, seolah tak percaya bahwa situasi dan kata-kata klise yang biasa menjadi tema sinetron dan pembahasan para psikolog itu --kerinduan seorang anak atas kehadiran dan kehangatan perhatian anak dari kedua orangtuanya-- benar-benar terjadi, justru di tengah-tengah keluarganya. Setidaknya terlihat dari coretan lepas tulisan tangan anak perempuan mereka.

Kehidupan metropolitan Jakarta (lagi-lagi saya harus menuliskan pernyataan yang sudah umum ini) memang tidak ideal bagi kehidupan anak-anak. Orantua yang rata-rata "angkatan 59" (berangkat jam 5 pagi dan pulang ke rumah jam 9 malam) tidak mempunyai kualitas kontak emosi yang cukup dengan anak-anak mereka. Kerap ini dituding sebagai sumber bencana bagi kehidupan anak-anak, entah perilaku kenakalan, persoalan NARKOBA dan seks bebas. Suami-iseteri itu tersadar, apa yang mereka baca dari majalah, koran dan juga digambarkan secara membabi-buta oleh sinetron-sinetron memang benar adanya. Setidaknya anak permpuan mereka telah menyatakannya ...

Hari ini, Senin, ketika Anda mulai membuka komputer Anda di kantor, seperti biasa Anda akan segera menghadapi banyak hal yang mungkin akan menyita energi dan waktu Anda. Sebagai orang yang sudah diberikan tanggungjawab, Anda harus mengerjakan tugas pekerjaan itu dengan sebaik-baiknya. Dengan upaya yang maksimal. Tetapi ijinkan saya mengingatkan, bahwa di luar pekerjaan di kantor, Anda juga mempunyai tanggungjawab yang tidak kalah penting. Terutama bagi Anda yang sudah menikah, Anda mempunyai tugas istimewa yang Anda emban: menjalankan kehidupan keluarga yang sudah Anda mulai. Suami atau isteri serta anak-anak Anda di rumah selalu merindukan kehadiran dan kehangatan kasih Anda. Dan harap dicatat, Anda justru harus mempertanggungjawabkan tugas-tugas dalam keluarga ini kepada "boss dari segala boss", Dia yang selama ini telah memerikan kesempatan begitu besar kepada kita. Bukankah ini sebuah tanggungjawab yang luar biasa?

Selamat pagi dan selamat n

Sendirian

"Tidak ada sesuatu di dunia ini yang bisa kita lakukan sendirian. Bahkan untuk urusan paling pribadi --buang air-- pun Anda membutuhkan bantuan. Langsung maupun tidak."

Alkisah, di sebuah kota terdapat warung makan yang terkenal dengan kelezatan makanannya. Bau masakan yang harum menyebar di sekitar warung, menyebabkan orang yang lewat sekitar warung makan itu tergerak untuk mampir. Namun demikian, pemilik warung makan itu dikenal sangat perhitungan. Jangankan mendapatkan air teh gratis, air putih pun harus bayar.

Suatu ketika, datanglah anak muda dan memesan satu piring nasi putih. "Hanya nasi putih? Tidak kah kau ingin mencicipi masakanku yang terkenal lezat?" tanya pemilik warung.
"Tidak, terimakasih. Engkau memang juru masak hebat, sehingga aku tidak perlu memesan lauk pauk, karena bau masakanmu cukup membuat nasi putih ini terasa lezat." kata anak muda itu.
"Jadi engkau hanya makan nasi putih dengan lauk bau masakanku?!" tanya pemilik warung makan itu tidak senang. "Kalau begitu, untuk bau yang engkau hirup, engkau harus membayar seperempat harga masakanku!"
"Ha?!" anak muda itu sejenak terbelalak kaget, tetapi ia segera menyadari bahwa seperti kata banyak orang, pemilik warung itu memang serakah. Dengan tenang ia kemudian berkata, "Baiklah, nanti akan aku bayar."

Pemilik warung tersenyum puas. "Hebat juga masakanku ... bahkan baunya pun bisa aku jual!" kata si pemilik warung dalam hati.

Ketika selesai memakan nasi putih, anak muda itu menghampiri si pemilik warung dan membayar seharga satu piring nasi. Pemilik warung tidak senang, "He anak muda, seperti aku telah katakan, engkau harus membayar lagi seperempat harga masakanku untuk bau yang telah engkau nikmati!"
"Baiklah," kata si anak muda sambil merogoh kantong dan mengambil beberapa keping rupiah serta kemudian menjatuhkannya ke atas meja, cring, cring, cring!, "Nah, karena aku hanya menikmati bau-bauan masakanmu, maka aku membayarnya dengan suara kepingan logam ini. Kamu sudah mendengarnya bukan? Lunas sudah!" katanya sambil memungut kembali kepingan logam itu dan ngeloyor pergi.

Pemilik warung makan pun terdiam tidak bisa berbuat apa-apa.

Adakalanya kita bertingkah seperti pemilik warung, dalam dongeng favorit masa kecil saya itu. Tidak rela orang lain ikut menikmati atau merasakan kesenangan dari apa yang kita lakukan atau sesuatu yang kita klaim sebagai bagian dari diri kita. Seolah-olah semuanya milik kita dan orang lain tidak berhak untuk menikmatinya. Bahkan untuk sesuatu yang tidak langsung kita lakukan sekali pun, seperti cerita bau masakan di atas. Apalagi untuk hal yang jelas-jelas merupakan hasil kerja keras kita, kemudian orang lain tanpa ikut bekerja menikmati hasilnya! Orang seperti ini masuk kategori orang yang "susah melihat orang lain senang dan senang melihat orang lain susah".

Padahal jelas, keberadaan kita di dunia ini ada maksudnya. Bukan semata-mata untuk diri sendiri, tetapi justru kita diciptakan untuk menjadi bagian dari umat di bumi yang seperti rangkaian elektronik, terkoneksi satu sama lain. Tidak ada satu pun di dunia ini yang Anda sungguh-sungguh bisa lakukan sendirian. Bahkan untuk urusan pribadi buang air kecil pun, Anda butuh tissue, air, tempat yang secara langsung maupun tidak, keterlibatan (baca: bantuan) orang lain (sudah) Anda rasakan.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Sensitivity

"Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya."

Sebuah keluarga dari suku Mescarlero Apache Indian telah menggugat produser mini seri TV Into the West yang disutradari Steven Spielberg. Persoalannya? Salah seorang pemain cilik, Christina Ponce (8), bocah perempuan keturunan Indian yang dalam film itu memerankan bocah laki-laki (karena kelangkaan karakter bocah laki-laki Indian), dicukur rambutnya tanpa persetujuan orangtuanya. Sebegitu amat? Ya, karena sesuai dengan kebudayaan suku Apache, memotong rambut seorang anak anak gadis pertama kalinya adalah sakral dan harus disertai dengan sebuah upacara ritual yang disebut Coming of Age, semacam upacara memasuki masa akil balik. Melalui pengadilan di Distrik Albuquerque, orangtua Christina menuntut produser film itu sejumlah USD 250,000 untuk tekanan emosi yang dialaminya serta USD 75,000 untuk "kerusakan" rambut anaknya.

Hal ini tidak akan terjadi kalau para kru film Into the West, mempunyai culture-sensitivity, yaitu kesadaran penuh dan rasa hormat akan latar belakang budaya dan kebiasaan yang berbeda-beda. Kasus rambut Christina ini adalah salah satu contoh terbaik issue cross-culture yang mengemuka.

Ada banyak kasus mirip dialami oleh para professional yang bekerja di multinational company. Seringkali kerjasama terhambat karena persoalan pemahaman culture antar anggota tim dan bahkan dengan atasan tidak baik. Atau tidak usah terlalu jauh, apabila Anda telah menikah dan suami atau isteri Anda berlatar belakang suku dan budaya yang berbeda, maka permasalahan --sekecil apa pun itu pasti terjadi.

Untuk menjadi manusia yang efektif kita harus bisa memahami (karakteristik personal dan latar belakang budaya) orang lain dan memperlakukannya seperti mereka ingin diperlakukan. Bukan memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan. "Do as they would be done by" and not "Do as you would be done by." Sebab yang pertama meletakkan orang lain sebagai fokus sedangkan yang kedua fokusnya kepada diri sendiri.

Selamat pagi dan selamat bekerja g

Tulus

"Salah satu anugerah ter besar yang dimiliki manusia adalah logika. Tetapi justru sikap terbesar manusia yaitu ketulusan tidak memerlukan logika sama sekali."

Harian Kompas, beberapa hari setelah gelombang Tsunami menghantam Asia, memasang gambar yang menyentuh. Seorang anak usia sekolah datang ke Sekretrariat Dana Kemanusiaan Kompas, menyerahkan dua kantung plastik uang logam untuk disumbangkan bagi korban Tsunami di Aceh dan Sumatera Utara. Konon uang receh itu adalah uang hasil tabungan si gadis kecil yang ia sisihkan sedikit demi sedikit selama ini. Begitu melihat tayangan televisi mengenai para korban Tsunami yang sangat 'mengerikan' itu ia tergerak untuk menyumbangkan seluruh tabungannya.

Dalam waktu yang berdekatan, sebuah stasiun radio di Jakarta, Female, juga menuturkan cerita mengharukan: seorang guru Sekolah Dasar datang ke sebuah toko kain di Pasar Tanah Abang. Ia bermaksud membeli kain kafan untuk para korban Tsunami di Aceh. Ia dan murid-muridnya tidak tega melihat mayat korban Tsunami bergelimpangan dan dikubur tanpa penanganan yang layak, normalnya jasad seorang manusia. Uang 'saweran' yang terkumpul ia belikan kain kafan, tetapi apa daya ternyata hanya mendapatkan beberapa puluh meter saja. Wajah kecewa sang Guru mengundang pertanyaan si pedagang.
"Mau buat apa, Pak?"
"Ini ... murid-murid saya mengumpulkan uang, kepingin mengirimkan kain kafan ke Aceh?" kata Guru itu lirih.
Sang pedagang terdiam sejenak. Ia memang sudah melihat di layar televisi mengenai para korban yang meninggal di Aceh dan tidak dimakamkan secara layak. Sejenak kemudian ia mengangkat telepon dan berbicara dalam bahasa Mandarin.

Selama kain kafan disiapkan, sang Pedagang itu terlihat menelepon beberapa kali ke beberapa orang .

Beberapa saat kemudian, beberapa orang tiba-tiba datang membawa kain kafan ke Kios itu. "Pak ini, teman-teman pedagang di sini titip bantuan kain kafan juga untuk disumbangkan ke Aceh ..." katanya kepada sang Guru yang kemudian tampak terharu sekali menerima bantuan spontan yang melimpah itu. Alhasil, pulang dari Pasar Tanah Abang, ia harus diantar dengan mobil bak terbuka untuk membawa kain-kain kafan sumbangan itu.

Apa yang dilakukan gadis kecil di Kompas dan pedagang kai n Tanah Abang itu, benar-benar spontanitas yang tulus. Alangkah indahnya apabila ketulusan seperti ini senantiasa ada dalam hidup keseharian kita. Tidak perlu menunggu datangnya bencana besar untuk berbuat kebaikan dan sesuatu yang tulus. Bukankah roh yang sudah ditiupkan ketika manusia diciptakan adalah merupakan roh kemuliaan, yang membedakan manusia dengan makhluk mana pun di muka bumi?

Satu-satunya keunggulan manusia diantara makhluk ciptaan lain adalah manusia bisa memilih untuk melakukan sesuatu yang baik atau sebaliknya.

Selamat pagi, selamat bekerja n

Daun

"Tidak ada satupun di dunia ini yang identik. Seperti pelangi, keindahan kehidupan manusia ter jadi justru karena adanya perbedaan."

Sambil duduk menunggu anak usai sekolah, saya memperhatikan dua orang anak kelas satu SD sedang bermain tebak-tebakan.
"Daun apa yang tidak berwarna hijau?" tanya salah satu anak.
"Daun puring!" jawab anak yang lain spontan.
"Salah."
"Daun kastuba!"
"Salah!"
"Apa dong?"
"Daun jendela, daun pintu, daun telinga …" jawab si anak pertama disambut ha ha ha, gelat-tawa riang bersama.

Mendengar gurauan mereka itu saya teringat akan pelajaran biologi semasa sekolah. Kita pernah belajar dalam ilmu biologi bahwa fungsi daun dalam tumbuhan sebagai tempat "memasak" makanan. Daun membutuhkan bahan makanan yang dikumpulkan oleh akar serta dikirimkan oleh batang, kemudian daun juga membutuhkan sinar matahari sebagai sumber energi untuk memasak makanan. Daun kemudian menditribusikan kembali makanan yang sudah diolah. Betapa sentralnya peran daun dalam tumbuhan.

Dari mata pelajaran yang sama, kita juga belajar tentang fungsi "daun" lain yang ada dalam tubuh hewan dan manusia: daun telinga. Berbeda dengan daun pada tumbuhan, daun telinga pada binatang dan manusia bukan menjadi tempat memasak makanan. Bahkan fungsinya sedemikian tidak penting. Dalam pelajaran biologi daun telinga disebut sebagai organ rudimenter, artinya fungsi dan peranannya tidak begitu jelas dan penting. Meskipun sebagian mempercayai bahwa daun telinga pada manusia dan hewan berfungsi untuk mengatur dan mengarahkan suara ke dalam gendang telinga, tetapi kalau pun daun telinga tidak ada, ternyata pendengaran manusia atau hewan juga tidak akan bermasalah. Belakangan diakui daun telinga berfungsi sebagai pengaman lubang telinga terhadap gangguan luar, seperti air, debu, binatang dan lain-lain.

Dalam organisasi, kita masing-masing barangkali mempunyai peran seperti daun dalam tumbuhan. Begitu sentral, begitu penting. Ada juga yang mungkin berfungsi seperti daun telinga. Tidak begitu di perhatikan dalam kondisi normal, tetapi ketika daun telinga tidak ada, k ita gusar. Bukan hanya bingung meletakkan anting atau gagang kacamata, tetapi juga berbahaya bagi gendang telinga karena kotoran dan binatang mudah masuk.

Seberapa pun kecil peran orang lain dalam organisasi, sama seperti tubuh dengan banyak anggota, mereka adalah bagian dari keseluruhan organisasi / perusahaan. Belajarlah untuk saling menghargai, karena perbedaan --apalagi peran-- akan selalu ada. Perbedaan adalah bagian anugerah Tuhan yang paling indah.

Selamat pagi, selamat bekerja n

Pertolongan

"Hanya mata penderitaan yang bisa melihat dengan jelas keindahan sebuah pertolongan. Tetapi Anda tidak perlu menderita untuk mengerti arti sebuah pertolongan."

Pagi hari ini, di tengah hujan lebat kami terlibat insiden kendaraan. Karena menghindari kemacetan di tengah jalanan kampung yang sempit, mobil kami terperosok ke parit. Roda kiri depan-belakang terbenam 3/4-nya membuat mobil menjadi miring 40 derajad ke kiri, sementara roda penggerak depan slip setiap kali pedal gas diinjak. Semakin kami mencoba mengeluarkannya, roda mobil makin tertancap dalam di parit. Kepanikan terjadi, karena di dalam mobil kami ada 5 orang penumpang termasuk isteri, dua anak kami yang berusia 7 tahun dan bayi 11 bulan serta ibu mertua. Anak saya yang pertama harus sekolah, sementara saya dan isteri sebenarnya juga terburu-buru berangkat kerja.

Saya minta isteri mengambil alih kemudi dan saya berusaha mengganjal roda dengan batu-batuan dan dahan yang ada disekitar. Tidak banyak menolong, meski baju saya sudah penuh lumpur. Mobil tetap tidak terangkat. Kami menjadi tontonan menarik bagi kendaraan lain yang lalu lalang. Entah apa yang mereka pikirkan tentang kami.

Di tengah-tegah upaya ini, seorang pengendara sepedamotor behenti dan berusaha menolong. Tidak berhasil. Kemudian datang lagi beberapa pemuda sekitar yang juga berusaha menolong. Tidak berhasil. Kami memutuskan meminta bantuan mobil derek, dan kami mengucapkan terimakasih sambil memberikan uang rokok kepada beberapa pemuda yang sudah berupaya keras menolong. Setelah menerima uang mereka membubarkan diri, kecuali si pengendara sepedamotor yang masih tetap menemani saya sambil terus mencari akal bagaimana mengangkat mobil. Dalam hati saya merasa was-was dengan pengendara sepeda motor ini. "Jangan-jangan ia mengharapkan sesuatu dari apa yang saya alami ini." Namun saya berusaha berpikir positif, dan kami berdua terus bercakap-cakap sambil berusaha menambahkan batu-batuan ke dalam parit. Belakangan saya tahu ia petugas satpam di Blok M Plaza.

Ketika isteri belum berhasil menghubungi derek, tiba-tiba dari arah belakang sebuah mobil Panther mendekat dan menawarkan pertolongan. Seorang bapak keluar dan kemudian memberikan pertolongan dengan manarik mobil kami menggunakan kawat baja yang dimilikinya. Berhasil. Tentu kami sangat lega dan berterimakasih sekali untuk pertolongannya. Bapak itu --sayangnya saya lupa nama dan alamatnya, yang saya ingat mobil Panthernya berwarna hijau army dan berstiker lambang Aplha-Omega di kaca belakang-- di tengah hujan dan kondisi jalan becek dengan tulus menolong kami. Bahkan beliau menolak ketika saya tawarkan untuk membawa alat-alatnya untuk kami cuci terlebih dahulu sebelum saya antar ke rumahnya. Setelah mobil itu pergi, saya juga mengucapkan terimakasih kepada pengendara sepedamotor itu. Saya mengeluarkan dompet dan berusaha memberikan uang rokok, tetapi ia menolak dengan halus dan berlalu. Kecurigaan saya terhadap pengendara sepedamotor itu buyar.

Di sepanjang jalan menuju rumah kembali, saya kembali mendapatkan konfirmasi bahwa memang dalam melakukan sesuatu, orang dilatarbelakangi berbagai macam motivasi. Termasuk dalam hal menolong. Ada yang mengharapkan uang seperti beberapa pemuda yang tersenyum senang ketika saya beri uang rokok; ada yang memang bisa dan bersedia membantu seperti pengemudi Panther; dan ada juga yang dengan tulus berempati, meski tidak mampu menolong tetapi memastikan bahwa saya mendapatkan pertolongan seperti apa yang dilakukan pengendara sepedamotor itu.

Betapa saya selama ini juga cuek dengan kejadian semacam yang saya alami: saya sering tidak ambil pusing dengan ban mobil lain yang kempes atau mobil yang kejebak mobil lain di tempat parkir. Saya baru merasakan bahwa pertolongan sekecil apa pun sangat besar manfaatnya bagi mereka yang memang membutuhkan pertolongan.

Selamat pagi, selamat bekerja n

Tulisan terbaru lightbreakfast juga bisa Anda dapatkan melalui layanan email langsung dengan cara subscribe melalui panel Google Group yang tersedia di bagian bawah halaman ini.
© 2006, 2007 Setya Rahadi. Lightbreakfast, adalah catatan perenungan pribadi dengan pesan-pesan singkat, universal dan konstruktif untuk teman minum kopi di pagi hari. Layaknya fast-food, silahkan menyantapnya di tempat atau mengunduh - take away isi blog ini sesuka Anda. Cantumkan sumber apabila Anda mengutip dan mengirimkan ke pihak lain. Kisah-kisah yang dituliskan dalam lighbreakfast diilhami oleh penggalan kisah nyata sehari-hari, dengan penyesuaian seperlunya. Kadang nama tempat atau nama orang ditulis apa adanya, tetapi dalam banyak hal, untuk kepentingan privacy, nama tempat atau nama orang tidak disebutkan secara gamblang. Nama samaran banyak dipakai demi enaknya cerita. Mohon maaf untuk kesamaan tokoh, tempat dan cerita yang mungkin terjadi.