Google Groups Untuk berlangganan 'lightbreakfast', silahkan masukkan alamat email Anda dan klik tombol 'Berlangganan' sekarang!
Email:
Browse Archives at groups.google.com

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Kesehatan Mental. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan Mental. Show all posts

Ego

"Pada dasarnya semua masalah bisa diselesaikan. Tetapi seringkali ego kita justru membuatnya menjadi lebih buruk."

Sebuah kendaraan meluncur di keramaian jalan di selatan Jakarta. Kendaraan baru merek terkenal yang masih berusia 2 bulan itu dikemudikan oleh seorang gadis remaja usia SMA. Di samping kiri duduk Sang Ayah dan dibelakang duduk Ibu dan adik lelakinya, Anto yang yang juga sudah menginjak remaja. Rupanya si Remaja putri --sebutlah Upik-- barusan mendapatkan SIM sehingga siang itu ia diijinkan menyetir.

Ketika mereka melewati sebuah lampu merah, tanpa disangka sebuah Angkot nyelonong dengan kecepatan tinggi dari arah kanan. Tabrakan tak terelakkan meskipun dua kendaraan tersebut berdecit tanda rem diinjak mendadak dengan kekuatan penuh. Kepala Upik membentur kaca samping kanan menyebabkan hancurnya kaca mobil baru itu. Ayah Upik naik pintam dan segera meloncat turun menghampiri sopir Angkot yang ugal-ugalan itu. Sudah bisa diduga, mereka terlibat adu mulut, saling gertak karena masing-masing merasa benar. Pertengkaran mereka menyebabkan lalu lintas terhenti dan suara klakson mulai ramai terdengar.

Sementara itu, karena benturan di kepala, Upik jatuh pingsan. Sang Ibu berteriak-teriak kepada suaminya berusaha memberitahu kalau si Upik pingsan. Tetapi Sang Suami terus beradu mulut dengan sopir Angkot itu. Baru berhenti ketika Anto berlari menyusul Sang Ayah dan menarik tangannya. Sempat agak lama, baru setelah Si Ayah berhasil merebut SIM Sopir Angkot itu mereka kembali ke mobil. Sang Ayah kaget melihat si Upik sudah tergeletak pingsan. Buru-buru ia mengangkatnya dan memindahkan kebelakang. Untung, pintu depan masih bisa dibuka sehingga mereka bisa membawa Upik ke Rumah Sakit terdekat tanpa harus mencari kendaraan lain. Perjalanan ke Rumah Sakit agak sulit karena lalu lintas di seputar perempatan itu terlanjur macet.

Upik harus menjalani perawatan serius karena pendarahan di otaknya sempat membeku. Timbul penyesalan Si Ayah karena tidak membawa lebih cepat Upik ke Rumah Sakit. Padahal itu bisa ia lakukan. Tetapi pada saat kejadian, justru yang lebih ia perhatikan adalah kerusakan mobilnya. Ia mati-matian "berjuang" agar si sopir Angkot bertangngungjawab memperbaiki kendaraannya. Ia sadar bahwa itu semua akhirya tak berarti apa-apa. Terbukti sampai beberapa waktu kemudian Sopir Angkot itu tidak nongol, meski SIM sudah ia pegang. Terlebih, sebenarnya kendaraan itu sudah diasuransikan. "Apa sebenarnya yang saya cari? Bukankah keadaaan Upik justru lebih penting daripada kerusakan mobilnya?"

Belajar dari apa yang dialami ayah Upik, semua orang bisa menghadapi peristiwa sama. Alternatif keputusan yang bisa diambil juga sama. Waktu yang disediakan untuk mengambil keputusan pun sebenarnya juga sama. Yang membedakan adalah seberapa besar dan sensitif ego-nya. Karena pada dasarnya semua masalah bisa diselesaikan, tetapi seringkali ego kuta justru membuatnya lebih buruk.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Merdeka

"Penjajahan terbesar dalam hidup kita adalah berupa kebohongan terhadap diri sendiri. Hanya roh kebenaran yang akan memerdekakan kita."

Seorang pegawai sebuah hypermarket menceritakan suka-dukanya sebagai customer services di perusahaan itu. Terutama bagaimana menghadapi para pelanggan. "Orang itu memang macam-macam!" katanya.

Memang. Kita barangkali tidak akan pernah menyangka atau berharap tetangga dan saudara kita berperilaku aneh-aneh dalam keseharian mereka, tetapi ketika mereka dihadapkan / ditantang soal kebutuhan hidup atau harga diri, maka saya yakin perilaku "mengejutkan" akan muncul. Bukankah karakter dasar seseorang akan mendorong perilaku yang berbeda ketika mereka sedang dalam pressure atau tersentuh ego-nya?

Seorang ibu misalnya, tiba-tiba meledak luar biasa marahnya ketika tahu barang yang ia beli tidak ada lagi di stock kecuali yang ada di display. "Nggak usah jualan kalau nggak ada barangnya!" katanya. Kenapa sih harus sampai marah sebegitu heboh? Atau, seorang ibu lainnya yang juga mencak-mencak gara-gara merasa dikubuli oleh kalimat promosi "BELI SATU DAPAT DUA" yang dipasang di koran, promotion catalog dan poster di sepanjang gerai. "#%$#* !! Lain kali tulis yang benar. Beli satu bonus satu! Kalau bilang beli satu dapat dua, ya harus dikasih tiga dong!" katanya sengit. Belum lagi pelanggan yang sangat super cermat terhadap perbedaan harga antara yang ditempel di display dengan yang tertera di struk pembelanjaan. Bahkan ada juga pembeli yang hobby-nya menukar-nukar barang yang sudah dibeli dengan alasan yang dicari-cari.

Orang bisa melakukan sesuatu yang "aneh-aneh" --paling tidak menurut norma umum yang berlaku-- lebih dikarenakan rasa kekawatiran dan ketakutannya sendiri. Sayangnya, ketakutan terhadap apa, kadang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan. Untuk memberikan kenyamanan mereka mengkompensasinya dengan perwujudan perilaku mereka yang sebenarnya merupakan penipuan besar terhadap diri mereka sendiri. Mereka --karena kekuatiran dan ketakutannya-- tidak bisa bersikapapa adanya. Mereka membohongi diri sendiri dengan berbagai macam bentuk perilakunya.

Kita semua sedang mengalami penjajahan terbesar dalam hidup. Hanya roh kebenaran yang dapat membebaskan kita. Seperti pasukan perdamaian PBB, undang roh kebenaran itu masuk ke dalam hati kita, dan biarkan ia bekerja. Maka kita akan menjadi manusia merdeka.

Dirgahayu Indonesia. Merdeka! n

(P)ujian

"Pujian perlu untuk membangun motivasi, tetapi pujian tidak mengajarkan sesuatu yang baru kepada kita."

Siapa yang tidak senang mendapatkan pujian atau penghargaan? Semua orang tentu suka dipuji atau merasa dihargai. Sekecil apa pun itu. Dalam teori psikologi positif, pujian dan penghargaan sangat diperlukan dalam membangun karakter positif seseorang dan lingkungannya. Pertama, pujian atau penghargaan akan sangat membantu dalam membangun kepercayaan diri seseorang. Jika Anda mempunyai anak kecil, cobalah biasakan untuk memberikan kata-kata positif berupa pujian atau sikap penghargaan terhadap suatu hal yang sudah mereka lakukan. Dorongan positif seperti itu akan memberikan penguatan serta pembentukan "pola permanen" dalam otak anak, sehingga kecenderungan positif akan muncul; yang seterusnya tentu akan membentuk perilaku positif anak pula. Bukankah lumba-lumba di Ancol yang begitu "cerdas" mengikuti perintah pelatih, sebenarnya merupakan hasil dari pembiasaan dalam memberikan penghargaan ini?

Kedua, pujian dan penghargaan yang Anda berikan kepada orang lain secara spontan dan "genuine" akan memberikan aura positif bagi lingkungan Anda. Kata-kata "Bagus!", "Wow, terimakasih!" akan sangat berarti bagi anak buah dan seluruh tim kerja Anda. Saya menyadari bahwa dalam kultur budaya kita, pemberian apresiasi ini masih "malu-malu" dilakukan. Berbeda misalnya bila Anda lihat dari teman-teman kita dari budaya barat umumnya, mereka lebih ekspresif dalammemberikan appresiasi. Misalnya lontaran kata-kata "Awesome!", "Perfect!", "Wonderful!", "Good job!" sering kita dengar.

Tetapi Anda juga perlu hati-hati dalam memaknai sebuah pujian. Dalam kata "pujian" terdapat kata "ujian" (dengan menghilangkan huruf "P" di depan). Artinya, bagi seseorang pujian justru bisa menjadi sebuah ujian baginya. Bagi yang secara mental tidak siap, pujian yang berlebih akan justru menenggelamkannya ke dalam bayang-bayang kesuksesan semu. Karena sesungguhnya, pujian yang kita terima adalah untuk sesuatu hal yang sudah terjadi di waktu yang sudah lewat. Ia tidak mengajarkan sesuatu yang baru untuk kita. Bukankah "past successes do not guarantee future successes"?

Oleh sebab itu, berhentilah menikmati pujian, jika pujian itu justru akan menenggelamkan Anda ke sukses masa lalu. Selain pujian, ada baiknya kita juga menerima (dan memberi) menerima kritik serta saran yang justru akan membangun kita, mendorong kita untuk belajar sesuatu yang baru. Jadi jangan takut menerima kritik. Itu adalah hadiah terbaik untuk perkembangan diri kita, selain pujian sewajarnya yang kita terima.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Bola

"Anda bukan lah sebuah bola dalam sebuah pertandingan sepakbola, yang menggelinding kesana-kemari tanpa tujuan, bergerak hanya jika ditendang, disoraki dan menjadi bulan-bulanan seumur hidup."

Subuh pagi ini saya terbangun oleh suara kehebohan anak perempuan saya. Dia berjingkrak-jingkrak kegirangan setelah Italia berhasil mencetak 2 gol dramatis ke gawang "panser" Jerman hanya di dua menit terakhir perpanjangan waktu.

Sejak kejuaraan dunia sepakbola diselenggarakan, anak perempuan saya yang berusia 7 tahun ini, mendadak menjadi seorang "pengamat cilik" sepakbola. Dia selalu mengikuti ulasan pertandingan baik di televisi maupun di koran dan majalah, termasuk halaman khusus harian Kompas. Hal yang tidak pernah saya lakukan. Saya lebih sering menjadi pendengar yang baik ketika anak saya mulai membuat analisa-analisa kekuatan dan kelemahan tim yang dijagokannya di piala dunia. Ia begitu fasih dan hapal hampir semua nama serta background para pemain.

Saya memang tidak mempunyai minat khusus terhadap jenis olahraga satu ini, meskipun saya juga senang dan sering menonton pertandingan bola piala dunia di televisi. Secara emosional saya tidak larut dalam gegap gempita piala dunia seperti sebagian masyarakat di Bali yang bahkan sampai memasang bendera kesebelasan favorit masing-masing di rumahnya. Atau sengaja nongkrongin pertandingan yang disiarkan dini hari seperti yang dilakukan anak perempuan saya.

Dalam banyak hal, saya malah memikirkan hal lain ketika menonton sebuah pertandingan bola. Misalnya, saya pernah diprotes anak dan isteri saya ketika saya sambil bercanda berkomentar, "Aneh ya, bola bundar kecil begitu kok dikejar-kejar, kayak kurang kerjaan ... Mereka yang pada nonton di stadion, ngapain juga pada rela berjubel dan bayar mahal lagi!" Saya juga pernah berpikir betapa malangnya menjadi "manusia bola" --bukan manusia penggemar sepakbola maksudnya, tetapi seandanya bola itu manusia-- yang ditendang-tendang oleh para pemain. Ia pasti menjadi manusia pasif, tanpa prinsip, rela ditendang kesana-kemari dan bahkan menjadi bulan-bulanan selama hidupnya.

Oleh sebab itu, menjadi penggemar sepakbola sah-sah saja. Tetapi awas, jangan sampai Anda menjadi "manusia bola" yaitu manusia yang tak pernah punyai inisiatif di mana hanya bergerak kalau dilempar dan ditendang. Arah dan tujuannya pun selalu tergantung kemana para pemain yang menendanginya. Menggelinding kesana-kemari, menjadi bulan-bulanan, ditepuki dan disoraki. "Nasib" Anda bukan orang lain yang menentukan, tetapi Anda sendiri. "Control your destiny or somebody else will." kata Jack Welch.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

© 2006, Setya Rahadi
http://www.lightbreakfast.com
http://www.lightbreakfast.blogspot.com


Purifier

"Seperti air terkontaminasi membutuhkan water purifier, jiwa kita yang teracuni pun membutuhkannya."

Suatu ketika saya sedang menunggu SMS konfirmasi dari seorang kawan. Tiba-tiba sebuah SMS nongol di PDA saya, bunyinya kurang lebih begini: "Kesempatan emas mendapatkan produk water purifier. Hasil lebih bagus dan murah daripada air mineral produksi pabrik. Cicilan 660 ribu selama 6 bulan tanpa bunga ... Bla bla bla." Membaca ini saya mesem kecut, karena ternyata SMS bukan dari teman saya, melainkan dari "pedagang kaki lima elektronik" --saya menyebutnya demikian, yang jualan dagangannya melalui SMS.

Meskipun saya tidak tertarik betul dengan produk yang ditawarkan, sambil bengong menunggu, saya kembali mengamati SMS itu. Wah, sebetulnya boleh juga tuh, alat canggih yang bisa membuat air sumur menjadi air siap minum tanpa merebusnya.

Menurut ensiklopedi online Wikipedia yang saya klik kemudian, kata "purifier" --dengan kata kerja "purification" berarti the process of separating a substance of interest from foreign or contaminating elements. Wah.

Saya kemudian berpikir juga, kapan muncul produk sejenis, produk yang bisa secara instant memurnikan mental manusia? Pasti akan laris. Mental manusia sekarang sudah banyak terkontaminasi dengan 'limbah industri' yang berbahaya. Bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi justru bagi banyak orang. Ada banyak peristiwa yang kita catat, misalnya bagaimana seorang kakek tega menikam cucunya sendiri. Bagaimana orang dengan mudah meledakkan bom di tengah kerumunan massa, semuanya menunjukkan betapa tingkat 'keracunan' mental manusia sudah semakin parah.

Tetapi memang komponen jiwa manusia tidak sesederhana unsur air (H2O). Yang disebut "cuci otak" pun bukan lah membersihkan otak, melainkan justru menanamkan pengaruh lain yang akan mendominasi akal-pikiran kita.

Sebenarnya, yang kita perlukan untuk membersihkan jiwa kita, bukanlah zat kimia atau alat penjernih. Kita sudah memiliki "zat alami" yang disebut "nurani" Kita cukup mengasahnya dengan secara rutin melakukan kontemplasi dan perenungan, sehingga dengan sendirinya, nurani Anda menjadi "water purifier" bagi diri Anda sendiri.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Masalah

"Setiap orang mempunyai masalah. Tetapi masalah terbesar manusia adalah kebiasaan memelihara masalah itu tetap sebagai masalah."

Sebuah kertas berukuran kartu nama dan berhiaskan dua buah daun berwarna coklat muda dan krem dibagikan kepada para pelayat yang hadir. Di sana tertulis: "I found that I'm dying in the young age, ada perasasaan sedih, tetapi tetep berdoa; kalau God's will to make me stay alive so be it & kalo Tuhan mau Dewi kembali ke sisi-Nya, maka itu juga akan menjadi kebahagiaan karena bisa bertemu dengan-Nya muka dengan muka." Kutipan itu diakhiri dengan kata-kata "Dewi, 17 Des 03".

Ratusan pelayat yang hadir dalam upacara doa abu jenazah Dewi di Kampus Universitas Atma Jaya, Jakarta Selasa 8 July 2004, merasa terharu sekali membaca kutipan yang dipersiapkan teman-teman baik Dewi itu. Itu adalah kutipan surat Dewi kepada teman-temannya ketika kesehatannya mulai memburuk akibat kanker darah yang dideritanya sejak lama. Yang membuat rekan-rekannya semakin kehilangan adalah, sebelum menjalani perawatan di Singapore, dalam kesehariannya Dewi tetap menunjukkan sikap yang positif dan penuh semangat. Senyum ramah yang senantiasa menghiasi bibirnya tidak pernah dilupakan teman-teman kuliahnya. Vonis kematian yang bagi kebanyakan orang akan menjadi masalah besar tidak sedikit pun mengganggu kegiatannya sehari-hari. Luar biasa.

Dalam menghadapi sebuah masalah, manusia mempunyai sikap beragam. Pertama adalah jenis manusia yang cepat sekali down, keder apabila dihadapkan kepada satu masalah. For them, a problem --whatever it is-- is a disaster. Sebisa mungkin masalah dihindari. Jenis yang lain adalah manusia yang sebenarnya mengerti ada masalah, tetapi mereka keep a distance. Membiarkan masalah itu, menganggap seolah-olah tidak ada atau berharap atau percaya bahwa masalah itu akan berlalu begitu saja. Jenis yang terakhir adalah jenis manusia yang percaya bahwa masalah itu harus dihadapi dan diselesaikan.

Apa pun sikap Anda terhadap segala masalah yang Anda hadapi hari ini, saya mengingatkan bahwa bagaimana pun, masalah adalah realita yang harus dihadapi. Semakin Anda menghindar atau mendiamkan sebuah masalah, seperti bola salju yang makin besar menggelinding ke bawah, ia akan menjadi bom waktu yang sangat dahsyat.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Gelandangan

"Seseorang menjadi gelandangan lebih karena keadaan, tetapi menjadi 'gelandangan rohani' adalah sebuah pilihan."

Ada kegembiraan yang mendalam manakala kita pulang ke rumah di sore hari. Terlebih di hari Jumat, karena beban pekerjaan di kantor selama seminggu akan kita lepas sementara, dan kemudian menggantinya dengan kegiatan lain bersama anggota keluarga tercinta selama weekend.&n bsp; Ada tarikan energi yang luar biasa pula ketika kita pulang ke rumah selepas perjalanan panjang ke luar kota. Bertemu keluarga dan bercanda, minum teh bersama di sore hari, melakukan kegiatan hobby kegemaran kita, berolahraga, bahkan sekedar membaca koran, menonton acara televisi, atau merebahkan diri melepas lelah di ranjang favorit kita.

Ketahuilah ada banyak orang yang kehilangan kesempatan untuk menikmati itu semua. Tidak ada keluarga dimana mereka akan kembali, tidak ada rumah di mana mereka akan merebahkan tubuh dan melepas kepenatan fisik, tidak ada tempat di mana ia bisa santai membaca koran dan minum the di sore hari. Mereka adalah para gelandangan.

Sama halnya dengan tubuh ini, jiwa kita juga membutuhkan "rumah". Jiwa kita memerlukan te mpat di mana kedamaian dan ketenteraman selalu ada. Jiwa kita membutuhkan "keluarga" yang bisa menjadi partner untuk saling memberikan inspirasi dan semangat. Jiwa kita membutuhkan "teh" , "koran" atau "olah jiwa" agar ada kesimbangan rohani dan senantiasa bugar. Mulai dari membaca buku, mendengarkan kaset spiritual, mengikuti seminar dan training motivasi dan lain sebagainya. Ada banyak orang yang memilih untuk tidak mempunyai "rumah" bagi jiwanya. Membiarkan jiwanya melalanglang buana, bebas-lepas menjadi "anak jalanan". Mereka adalah para gelandangan rohani.

Apakah kita termasuk kategori gelandangan rohani ini? Ada banyak hal dan kesempatan yang kita bisa lakukan selama akhir pekan ini. Berikanlah kesempatan bagi jiwa Anda untuk sebentar merenung, m encari inspirasi dan insight yang akan memperkaya hidup Anda. Banyak buku, musik, film atau aktifitas rohani yang bisa Anda pilih. Berikan "rumah" bagi jiwa kita --yaitu sebuah tempat dimana kedamaian, ketenteraman, kesehatan rohani dan pikiran kita senantiasa disegarkan-- dan jangan membiarkan jiwa kita menjadi liar seperti "preman jalanan".

Selamat pagi, selamat bekerja n

Naluri

"Kemajuan, kesuksesan dan kenikmatan yang kita raih dapat menguburkan kita ke 'tanah pemakaman' yang disebut comfort-zone."

Beberapa saat sebelum badai Tsunami menerjang Aceh dan beberapa belahan dunia yang lain, seorang korban di Aceh yang berhasil selamat menuturkan di sebuah harian bahwa ia sempat curiga dengan burung-burung yang berwarna putih berterbangan. "Pertanda buruk," katanya sambil berbalik arah menuju bukit. Benar, beberapa saat kemudian air laut meluap di depan mata. Rupanya binatang mempunyai naluri yang baik akan tanda-tanda alam. Di Sri Lanka, seperti dilaporkan CNN, juga jarang ditemukan bangkai binatang, meskipun jasad manusia bertumpuk di mana-mana. "No elephants are dead, not even a dead hare or rabbit. I think animals can sense disaster. They have a sixth sense. They know when things are happening," kata H.D. Ratnayake, Deputy Director of Sri Lanka's Wildlife Department, seperti dikutip CNN.

Lain lagi dengan apa yang dilaporkan New York Post - Online Edition. Beberapa sukarelawan penyayang binatang yang juga bergerak setelah badai Tsunami itu menemukan kenyataan bahwa justru yang banyak menjadi korban adalah binatang piaraan di rumah-rumah, jarang ditemukan korban dari binatang liar. "Wild animals seemed to sense the massive tidal wave approaching, and escaped to higher ground. But many pets refused to abandon their human owners, and livestock was often penned or tied down and could not escape," kata seorang an animal-welfare experts said seperti dutilis New York Post - Online Edition.

Menarik, beberapa binatang piaraan segan untuk meninggalkan rumah pemiliknya dan mati bersama-sama dengan tuannya. Di satu sisi ini bisa kita pahami sebagai bentuk 'kesetiaan', di pihak lain --ini yang saya duga-- binatang piaraan itu sudah "mati rasa" instingnya dibanding binatang sejenis yang masih ada di hutan belantara. Barangkal i mereka sudah terlalu lama menjadi binatang piaraan, sehingga tidak bisa bergerak dari daerah "comfort-zone"-nya. Film kartun Mandagaskar menggambarkan dengan gamblang sindiran ini, yaitu dengan kisah menarik petualangan penghuni kebun binatang yang terpaksa harus masuk ke hutan belantara. Kikuk, karena mereka keluar dari "comfort-zone".

Dalam hal tertentu, kemajuan, kekayaan, karir, status sosial yang diciptakan dan diraih manusia telah menciptakan jebakan kepada dirinya sendiri. Seperti halnya nasib binatang piaraan itu, manusia pun akhirnya mati terkubur bersama sesuatu yang diciptakan dan diraihnya, di tanah yang disebut "comfort-zone" itu. Manusia lupa, bahwa mereka harus tetap melakukan sesuatu. Terus menerus, karena dalam hal itulah manusia diciptakan.

Selamat pagi, selamat bekerja n

Siap

"Kita tidak bisa merencanakan bagaimana kita lahir atau menjalani masa balita. Yang kita bisa rencanakan adalah bagaimana kita menjalani masa tua kita."

Sebuah angket kecil-kecilan diedarkan kepada responden dengan beberapa kategori usia. Singkat pertanyaanya, "Apakah Anda bersedia tinggal di Panti Jompo pada masa tua Anda nanti? Jelaskan alasan Anda!"
Sudah bisa diduga, responden terbanyak menjawab "Tidak Bersedia." Kenapa? alasanya bermacam-macam, tetapi umumnya mengatakan ingin dekat dengan anak-cucu atau keluarga. Hanya satu yang tegas mengatakan "Bersedia", karena responden ini tidak mau merepotkan anak-anak di masa tuanya nanti.

Masa tua selama ini dianggap sebagai sesuatu yang "berat" baik bagi pelakunya sendiri maupun bagi orang lain. Berat karena masa tua identik dengan masa yang rapuh, lemah dan memberatkan orang lain. Jujur, kebanyakan dari kita mungkin belum siap menghadapi masa tua kita --bahkan sekedar untuk berpikir bagaimana kita akan menjalani hidup di masa tua nanti pun saya yakin kita belum pernah memikirkannya secara serius. Kita mungkin juga tidak akan terpikir kalau sampai kita harus menjadi beban anak-anak karena keadaan kesehatan kita di masa tua.

Ketika kita membuka hari yang baru pagi hari ini, kita diingatkan kembali bahwa sesungguhnya kita bisa mempersiapkan masa tua kita. Karena bagaimana kita menjalani masa tua kita nanti adalah sejauh mana kita mempersiapkannya mulai dari sekarang. Apa yang sudah Anda lakukan sejauh ini?

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Pilihan

"I never Knew I had a Choice" - Judul buku karya Gerald Corey, 1978.

Sepasang murid SMU yang sedang pacaran bercakap-cakap santai. "Hidup ini penuh dengan pilihan-pilihan, setuju nggak kamu?" tanya si perempuan.
"Setuju."
"Kalau begitu kamu boleh meniduriku sekarang, kalau mau!"
"Hmm ...." belum selesai si pria merespon, si perempuan melanjutkan, "Kamu juga bebas tidak meniduriku, kalau memang perasaanmu tidak enak."
"Hmm ... ya tentu aku ..."
"Kalau kamu memilih meniduriku sekarang, berarti kamu memang pria hidung belang. Kita sudahi saja hubungan kita!" si perempuan menyela si pria. "Kalau kamu memilih tidak meniduriku, aku meragukan kelaki-lakianmu, dan aku mempertimbangkan mencari pria lain!"
Si pria bingung, "Lho, jadi pilihanku yang mana?"

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita dihadapkan pada persoalan pelik sehingga kita sulit untuk memutuskan suatu pilihan. Kata-kata yang sering terlontar untuk situasi ini adalah, "Apa boleh buat, tidak ada pilihan!" atau "Saya nggak punya pilihan lain."

Sesungguhnya, hidup ini penuh dengan pilihan-pilihan, seperti kata perempuan dalam ilustrasi di atas. Hanya, karena kita terikat oleh situasi dan kondisi tertentu, atau kita takut menanggung akibat dari keputusan yang kita ambil, seolah-olah kita menjadi tidak mempunyai pilihan. Bukankah ketika kita memutuskan tidak memilih pun, kita juga sudah mengambil sebuah pilihan?

Dalam situasi dilematis, selalu cobalah keluar dari frame situasi dan kondisi yang membelenggu kita, pasti kita akan melihat banyak pilihan. I had never knew I had a Choice, judul buku karya Gerald Corey ini mengingatkan bahwa bukannya kita tidak mempunyai pilihan, tetapi yang terjadi adalah kita tidak tahu bahwa sebenarnya selalu ada banyak pilihan. Kita dibutakan oleh ketakutan kita serta persoalan yang kita hadapi. Apakah Anda selalu merasa tidak mempunyai pillihan?

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Penjual

"Beda antara penjual dan pembual terletak pada satu karakter sentralnya."

Makna kata "penjual" dan "pembual" hanya dibedakan antara lain oleh huruf yang berada di tengah, yaitu huruf "j" dalam kata "penjual" dan huruf "b" dalam kata "pembual".

Ini bukannya tanpa arti, karena seandinya kita berpikir bahwa kedua kata itu menyebut sebuah predikat "profesi", maka kedua "profesi" itu mempunyai makna yang sangat kontras. Dan perbedaan itu ditandai oleh "character" yang kebetulan berada di tengah yang merupakan simbol dari sentral karakter penyandangnya.

Karakter sentral pembual adalah "b" yang boleh jadi merupakan singkatan dari "bohong", tukang bohong. Sedangkan karakter sentral penjual adalah "j" yang bisa kita artikan sebagai karakter yang "jujur".

Kalau Anda mempunyai profesi sebagai seorang penjual, salesman, seberapa jauh karakter sentral Anda yang konon bersifat "jujur" ini menjadi penuntun langkah sehari-hari? Percayalah, penjual yang tidak jujur dan kepleset menjadi pembual tidak akan pernah bertahan lama, karena kepercayaan dari pelanggan akan lenyap manakala mereka tahu Anda sesunggunya bukan penjual yang profesional, melainkan pembual.

Temukan karakter sentral Anda hari ini. Selamat bekerja n

Tulisan terbaru lightbreakfast juga bisa Anda dapatkan melalui layanan email langsung dengan cara subscribe melalui panel Google Group yang tersedia di bagian bawah halaman ini.
© 2006, 2007 Setya Rahadi. Lightbreakfast, adalah catatan perenungan pribadi dengan pesan-pesan singkat, universal dan konstruktif untuk teman minum kopi di pagi hari. Layaknya fast-food, silahkan menyantapnya di tempat atau mengunduh - take away isi blog ini sesuka Anda. Cantumkan sumber apabila Anda mengutip dan mengirimkan ke pihak lain. Kisah-kisah yang dituliskan dalam lighbreakfast diilhami oleh penggalan kisah nyata sehari-hari, dengan penyesuaian seperlunya. Kadang nama tempat atau nama orang ditulis apa adanya, tetapi dalam banyak hal, untuk kepentingan privacy, nama tempat atau nama orang tidak disebutkan secara gamblang. Nama samaran banyak dipakai demi enaknya cerita. Mohon maaf untuk kesamaan tokoh, tempat dan cerita yang mungkin terjadi.