Google Groups Untuk berlangganan 'lightbreakfast', silahkan masukkan alamat email Anda dan klik tombol 'Berlangganan' sekarang!
Email:
Browse Archives at groups.google.com

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sukses: Hak, Tanggungjawab

Teman-teman remaja yang saya tanya, "Setujukah sukses itu adalah hak kita?", jawabnya, "Setujuuuu!" sambil berteriak semangat a la peserta militan seminar motivasi. Wah, kalau sudah bicara "hak", serta merta emosi ini dipenuhi dengan kobaran api pembakar logika bahwa kalau kita tidak sukses, berarti telah terjadi perampasan hak. Sehingga orang didorong sedemikian rupa untuk mengejarnya! Kompleksnya persoalan sukses itu dipersempit ke dalam persoalan "hak" semata.

Padahal, nggak usah bicara hak, kita ini sebenarnya sudah diperlengkapi dengan perangkat (untuk) sukses ketika kita ini dilahirkan. Pencipta kita jauh lebih kreatif dari Mark Zuckerberg yang bikin facebook sedemikian suksesnya! Bayangkan, kalau facebook yang tak bernyawa itu saja bisa sedemikan sukses karena features-nya, lha kita ini kan manusia yang sedemikian rupa default feature-nya memang untuk berhasil. Seluruh organ dan "perangkat lunak" yang kita miliki tidak ada yang didesain agar kita gagal dalam hidup. Perkara ada beberapa fungsi yang kemudian ketahuan malfunction, itu bukan karena by purpose tetapi karena kegagalan fungsi semata.

Dengan demikian, alternatif pemahaman yang bisa disodorkan adalah bahwa kesusksesan itu sesungguhnya lebih merupakan sebuah pertanggungjawaban terhadap maksud dan tujuan Sang Pencipta --dalam menghadirkan kita di alam raya ini. Kalau kita memahaminya sukses sebagai tanggungjawab, dan kalau kita memang manusia yang bertanggungjawab, pastilah setiap pagi, ketika kita membuka kelopak mata untuk hari yang baru, kita sudah dengan sadar bahwa keberhasilan menjadi tema utama hari-hari kita.

Jadi kalau Andre Wongso memilih slogan "Success is my right!" injinkan saya menyarankan untuk mengganti menjadi "Success is my responsibility!".

Selamat pagi dan selamat bekerja!

Cemilan: Peradaban


KONTRASNYA PERADABAN: Sayang saya lupa siapa mengirim foto ini. Tetapi foto menarik ini saya simpan di hard-disk melalui save attacment email. Ketika melihatnya kembali, terlintas dalam benak: hmhh ... betapa peradaban ini berkembang luarbiasa. Foto di atas bertutur banyak. Peradaban batu versus kecanggihan tehnologi. Pertanyaan saya selanjutnya --dan juga mungkin pertanyaan Anda semua. Apakah kemajuan peradaban ini lalu otomatis membuat kita semakin beradab? Atau kah justru kemajuan peradaban - tehnologi membuat manusia semakin jauh dari peradabannya? n LAINNYA

Mandiri

"Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu; Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri; Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu; Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu ... " - Khalil Gibran

Saya agak terganggu dengan perilaku seorang ibu yang duduk di sebelah kanan saya. Dari sudut mata, terlihat ibu ini selalu memperhatikan apa yang saya kerjakan. Entah apa yang ada dalam benak dia atau bahkan yang dimaui. Dalam hati saya berharap penerbangan saya dengan SQ38 dari Singapore ke Los Angeles ini bisa jalani dengan tenang. Bukan apa-apa, waktu tempuh 16-17 jam harus bisa saya manfaatkan secara maksimal termasuk waktu untuk istirahat, mengingat pekerjaan di depan menumpuk.

Tetapi perasaan saya berubah ketika tahu Ibu Lina -- demikian ia meminta saya memanggilnya-- ternyata berasal dari Indonesia. Semula saya tidak menyangka ibu yang tidak bisa berbahasa Inggris itu berasal dari Samarinda. Ia lebih banyak berbicara dalam Bahasa Mandarin kepada pramugari. Baru ketika ibu ini mengeluarkan buku berbahasa Indonesia terbitan sebuah penerbit besar di Jakarta, saya memberanikan diri untuk mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"Ibu dari Indonesia?"
"Ya, saya dari Samarinda." jawabnya sambil tersenyum lebar.
"Ibu sendirian?"
"Iya, mau menengok anak saya," katanya sambil menyebut kota kecil berjarak 1 jam perjalanan mobil dari Los Angeles, "Anak saya mau melahirkan."
"Oh, cucu pertama?"
"Iya"
"Dari anak pertama?"
"Kebetulan anak saya cuma satu, laki-laki."

Pantesan ia selalu memperhatikan saya, barangkali saya mirip dengan anak laki-laki satu-satunya, atau paling tidak usianya sama. Ge-er boleh kan?

Selanjutnya kami berbincang-bincang panjang selama perjalanan sebelum kami terlelap. Ia banyak bercerita mengenai perjuangan hidupnya. Suaminya yang kontraktor rumahan meninggal beberapa tahun yang lalu tanpa sempat melakukan transisi pengelolaan usahanya, sehingga praktis, usahaannya mati bersamaan dengan meninggalnya sang suami. Anak satu-satunya yang bersekolah di Singapore kemudian mendalami Arsitek di Amerika lebih suka memilih bekerja dan menetap di sana. Bahkan keponakan yang semula ia sponsori sekolah tehnik sipil juga tidak tertarik menjalankan usaha suaminya. Jadilah ia sendirian di Samarinda dan menekuni bidang multilevel marketing. "Saya sendirian tetapi meskipun begitu saya tidak merasa kesepian ... Saya bahagia karena anak saya dan orang-orang yang pernah saya bimbing sekarang sudah punya pekerjaan yang baik atau usaha sendiri yang mapan." katanya renyah.

Ketika kemudian tahu bahwa saya mempunyai dua anak yang masih kecil-kecil, Ia menasehati saya --dengan gaya tutur seorang ibu kepada anaknya tentunya-- bahwa tugas orangtua hanyalah mengantarkan anak-anaknya untuk bisa menjadi manusia yang mandiri. Membimbing mereka dan mengarahkan mereka, bukan memaksa mereka untuk melakukan apa yang kita mau, apalagi menyangkut kehidupan mereka sendiri kelak.

"Ajari mereka cuci baju sendiri, cuci piring, menyapu dan membersihkan tempat tidur sendri ... Supaya mereka tahu kehidupan nyata yang dihadapinya!" tegasnya sambil memberikan contah salah satu anak relasinya yang sudah berusia SMA tetapi masih dibantu untuk menyiapkan dan memakai baju seragamnya.

Sebelum kami kemudian tertidur, Ibu Lina membuka tas tangannya, mencari-cari sesuatu di balik selipan beberapa buku yang ia bawa kemudian memberikan ke saya selembar kertas sambil berkata, "Ambil ini dan baca Dik!" katanya. Saya menerima kertas itu sambil tersenyum dan mengangguk-angguk. Rupanya sebuah copy dari teks puisi terkenal Khalil Gibran yang saya rasa kita pernah membacanya. "Anak" dalam "Cinta, Kehidupan, Kesunyian". Demikian teks lengkapnya:

"Dan seorang perempuan yang menggendong bayi dalam dakapan dadanya berkata, Bicaralah pada kami perihal Anak.
Dan dia berkata:

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu


Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan fikiranmu
Kerana mereka memiliki fikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka
Kerana jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi


Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan cuba menjadikan mereka sepertimu
Kerana hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan


Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya, sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh.
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur teguh yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan." -
Khalil Gibran.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Cemilan: Serong


PERLAKUAN KHUSUS KAUM PESERONG: Iseng, saya ambil foto ini di depan Supermarket Hero, Bogor, bulan Desember tahun lalu. Terangsang pikiran jenaka saya untuk menghubungkannya dengan berita seputar perselingkuhan para artis dan pejabat negara. Lah, emang di negara ini perbuatan "serong" menjadi semacam tanaman langka yang harus dilindungi. Buktinya? Lihatlah foto ini. Bahkan bagi mereka yang mau serong pun dibuatkan tempat parkir khusus! Bukan main. Lazimnya, tempat parkir khusus kan disediakan bagi manula atau penderita cacat! Tetapi yang ini? Alamak. Opo tumon. Tentu ini cuma iseng, jangan ditanggapi terlalu serius. Sekedar cemilan sampingan di pagi hari. Selamat berkarya n LAINNYA

Keder

"Lihat bolanya, bukan siapa yang menendangnya." - Asa

Anak perempuan saya, entah kenapa menyukai olahraga sepakbola. Ia tak pernah kehilangan semangat untuk cerita soal tim sepakbola-nya di sekolah (jangan dibayangkan seperti klub bola sungguhan, karena yang ia ceritakan adalah permainan mereka sewaktu istirahat sekolah). Apa yang ia sampaikan tak kalah dengan ulasan komentator profesional di televisi. Cara ia menganalisa kekuatan dan kelemahan lawan, bagaimana menyusun komposisi dan strategi menyerang berdasarkan kekuatan tim yang ia miliki, benar-benar yak-yako. Hebatnya, tim yang ia pimpin mayoritas cowok.

"Hari ini Asa menang tiga kosong melawan tim Aldo, Pa!" katanya suatu ketika dengan pakaian basah penuh keringat, rambut acak-acakan dan tali sepatu terburai nggak karuan.
"Oh ya? Hebat dong."
"Tahu nggak kenapa Pa? Asa tahu sekarang kelemahan Kristin ..." anak yang disebut Asa ini cewek tetapi mempunyai tubuh yang bongsor. Sebelumnya ia pernah cerita tentang anak itu, bahwa banyak teman-teman satu timnya, cowok maupun cewek, yang kesulitan menghadang dan mengimbangi permainannya.
"Ternyata, kekuatannya ada di kaki kirinya! Makanya kalau dia menyerang selalu dari sisi kiri. Asa bilang sama anak-anak supaya diusahakan bola digiring di sisi kanan dia ... berhasil. Tak berkutik dia, nggak pernah bikin gol!"
"Oh ya?"
"Terus ada lagi Pa."
"Apa itu?"
"Marco, kiper Asa, kali ini mengalami kemajuan pesat."
"Emang kenapa?" saya berusaha meladeni omongannya, meski kadang-kadang merasa geli memperhatikan tingkahnya.
"Dia itu sangat takut sama tendangan Aldo."
"Emang kenapa tendangan Aldo?"
"Dia itu super Pa! kalau menendang ... keras buanget Pa!"
"Kiper kan nggak boleh takut bola?"
"Itu dia Pa!"
"Jadi apa yang kamu lakukan?"
"Asa kasih tahu dia, supaya konsetrasi. Yang penting lihat bolanya, bukan siapa yang menendangnya ... buktinya, dia berhasil tidak kebobolan ..."
"Hm, hebat juga kamu!" dalam hati saya mencatat kata-katanya.

Di luar permainan bola, dalam praktek kehidupan sehari-hari, apa yang Asa katakan itu sangat relevan. Seringkali kita merasa keder, minder atau takut untuk memulai sesuatu karena kita sebenarnya risau terhadap 'siapa' yang akan kita hadapi, bukan fokus kepada persoalan atau masalah itu sendiri. Kita terlalu khawatir terhadap banyak hal sehingga justru kehilangan energi untuk mengerti dan memahami masalah, apalagi lalu menemukan solusi yang tepat. Oleh sebab itu jangan terlalu risau terhadap 'siapa' yang kita hadapi, tetapi fokuslah terhadap apa yang kita kerjakan. Lihat bolanya, bukan siapa yang menendangnya, kata Asa.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Kepala

"Seperti kata 'Head' dan 'Lead' dibedakan satu karakter awalnya, untuk bisa memimpin (to lead) juga dibutuhkan 'karakter' awal yang berbeda daripada sekedar mengepalai (to head)."

Di tengah Pasar Benhil ada 'foodcourts', yang antara lain menjual masakan Padang. Ketika saya berkantor di daerah itu beberapa tahun lalu, salah satu menu favorit saya adalah Gulai Kepala Ikan. Sampai sekarang saya masih sering terngiang-ngiang cita-rasanya. Mmm, sedap. Biasanya saya kesana kalau memang punya waktu longgar, tidak ada meeting atau agenda lain selepas makan siang, sehingga saya bisa santai, penuh kesabaran dan ketelitian menikmati kepala ikan itu. Sudut demi sudut.

Entah kenapa makan kepala ikan membawa sensasi tersendiri bagi saya. Termasuk pecel lele. Yang saya sukai adalah ukuran lele yang tidak terlalu besar dan digoreng kering. Kepalanya akan terasa chrispy dan gurih di langit-langit mulut. Apalagi kalau sambelnya cocok.

Ayah saya juga penggemar kepala. Segala jenis kepala. Mulai dari kepala ayam sampai kepala kambing. Yang saya ingat, bila ibu menggoreng ayam, ayah sering mendorong kami untuk makan kepalanya. "Jupuken endhase, cik ben dadi pemimpin!" kata beliau meyakinkan. Ambil dan makan kepalanya supaya jadi pemimpin, begitu kira-kira. Entah ada hubungannya dengan kegemaran beliau makan kepala atau tidak, ayah saya memang mengakhiri karir profesionalnya sebagai kepala inspeksi guru di sebuah kabupaten di Yogyakarta.

Bicara soal kepala dalam budaya Jawa, berarti bicara soal status sosial. Setidaknya yang saya pahami selama ini. Menjadi kepala, menduduki jabatan pangreh praja, berarti menjadi 'priyayi' sebuah sebutan kelompok masyarakat berkelas dalam budaya Jawa. "Gedhe dadi priyayi!" memang menjadi kudangan (timangan) umum orangtua kepada anak-anaknya. Saya ingat, apabila kami berkunjung ke leluhur, simbah, eyang, buyut di hari Lebaran selalu kata-kata harapan "Dadi priyayi ya Le!", jadilah priyayi begitu kurang lebih, tak henti-hentinya kami terima.

Tetapi pemaknaan saya terhadap "menjadi priyayi", menjadi kepala, menjadi pejabat, sekarang ini berbeda dengan apa yang saya pahami semasa saya kecil. Menjadi "priyayi" menjadi pejabat, bukanlah keistimewaan bagi saya, karena semua orang ternyata bisa menjadi pejabat, bisa menjadi kepala, bisa menjadi "priyayi". Tetapi tidak semua pejabat itu sesungguhnya bisa menjadi pemimpin (leader). Ada karakter khusus yang diperlukan bagi seseorang untuk bisa memimpin, seperti kata Lead (memimpin) dalam Bahasa Inggris yang mempunyai karakter awal yang sangat berbeda dengan kata Head (mengepalai). Nah, menduduki jabatan tertentu sah-sah saja, tetapi yang lebih penting adalah: apakah kita sudah menjadi seorang pemimpin (yang baik)? merupakan pertanyaan reflektif yang justru mendasar dan perlu kita selalu ingat.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Guyon

"Tertawa adalah hak bebas setiap orang, tetapi tidak semua hal bebas ditertawakan."

Beberapa hari setelah pesawat Adam Air dinyatakan hilang dan simpang siur pemberitaan mengenai diketemukannya pesawat itu, beberapa SMS dengan isi hampir sama datang ke handphone saya. Beberapa diataranya berbunyi, "Cepetan nonton … (sebuah stasiun televisi), adam air sdh ditemukan: 88 org meninggal, 2 org kritis, 1 org kena tipu baca sms ini ;-)" .

Alamak! Tega-teganya membuat joke untuk sebuah peristiwa yang kita sama-sama tahu tidak layak tayang dijadikan guyonan. Terus terang saya berkeberatan dengan sms ini, meskipun saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia yang masih memiliki empati terhadap keluarga korban. Coba Anda bayangkan bagaimana apabila sms berantai ini tersebar dan isteri, suami atau pihak keluarga yang menjadi korban pesawat itu menerima pesan pendek ini. Oleh sebab itu saya menggunakan hak jawab saya dengan mengirimkan balasan ke si pengirim, memperingatkan untuk tidak melakukan itu.

Kita memang memahami budaya guyon, plesetan sudah menjadi bagian hidup dari sebuah komunitas sosial. Ia menjadi sebuah pelengkap interaksi, ia menjadi pencair ketegangan, bahkan joke (lawak) menjadi sebuah industri yang luar biasa menjanjikan. Jaman dulu ada Srimulat, sekarang ada Extravaganza dan bahkan acara talkshow pun tak lepas dari invasi guyon ini, tengoklah acara News.Com atau Empat Mata-nya Thukul Arwana yang konon kebanjiran iklan karena rating-nya melejit itu.

Tetapi, apakah atas nama guyon, atas nama canda, atas nama lelucon, kita bebas melakukan sesuatu? Kita seolah-olah punya "kekebalan diplomatik" untuk lelucon yang kita lakukan, berlindung di balik disclaimer, "Hanya bercanda kok!" , "Just kidding!" , "Tenang Men, serius amat!" dan seterusya. Dengan kata-kata sakti itu seolah candaan itu menjadi sah, tanpa menghiraukan perasaan korban atau bahkan "kerugian" lain yang diderita.

Segala sesuatu ada batasnya, dan yang harus membuat batas itu adalah kita sendiri! Kalau kita tidak membuat batas sendiri, pada suatu saat nanti Anda akan diberi "batas" oleh orang lain. Entah itu berupa teguran, atau Anda mengalami peristiwa tragis. Dari sebuah koran yang saya baca di pesawat, seorang pekerja imigran di Singapore dinyatakan bersalah dan masuk penjara karena telah menngakibatkan kematian rekannya. Kejadiannya sepele, mereka bercanda ketika berenang di pantai, ngerjain salah satu rekannya yang tidak bisa berenang sehingga harus berakhir dengan kematian si korban. Di Yogya beberapa tahun lalu juga terjadi peristiwa tragis ketika dengan bercanda seorang montir bengkel mengarahkan selang kompresor bertekanan tinggi ke pantat rekannya yang kebetulan celananya berlubang. Karena terkejut, si korban secara reflek berdiri mengakibatkan ujung selang terjepit di dubur dan angin bertekanan tinggi itu masuk ke usus. Ia meninggal seketika. Belum lama juga, di Bandara Singapura maskapai penerbangan SilkAir juga harus mengeluarkan seorang pria Australia dari pesawat (hanya) karena ia bercanda menyebutkan kata "bom" beberapa menit sebelum take-off ke Indonesia. "Where do you keep the bomb?" katanya kepada flight-attendant. Paulin nama pria itu kemudian didenda $6,420 sesuai peraturan anti-teroris internasional dalam penerbangan.

Joke membuat hidup ini segar, guyonan membuat hubungan kita cair, bercanda adalah variasi dalam melepas ketegangan. Bercandalah, tetapi Anda harus tahu batas-batasnya.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Ego

"Pada dasarnya semua masalah bisa diselesaikan. Tetapi seringkali ego kita justru membuatnya menjadi lebih buruk."

Sebuah kendaraan meluncur di keramaian jalan di selatan Jakarta. Kendaraan baru merek terkenal yang masih berusia 2 bulan itu dikemudikan oleh seorang gadis remaja usia SMA. Di samping kiri duduk Sang Ayah dan dibelakang duduk Ibu dan adik lelakinya, Anto yang yang juga sudah menginjak remaja. Rupanya si Remaja putri --sebutlah Upik-- barusan mendapatkan SIM sehingga siang itu ia diijinkan menyetir.

Ketika mereka melewati sebuah lampu merah, tanpa disangka sebuah Angkot nyelonong dengan kecepatan tinggi dari arah kanan. Tabrakan tak terelakkan meskipun dua kendaraan tersebut berdecit tanda rem diinjak mendadak dengan kekuatan penuh. Kepala Upik membentur kaca samping kanan menyebabkan hancurnya kaca mobil baru itu. Ayah Upik naik pintam dan segera meloncat turun menghampiri sopir Angkot yang ugal-ugalan itu. Sudah bisa diduga, mereka terlibat adu mulut, saling gertak karena masing-masing merasa benar. Pertengkaran mereka menyebabkan lalu lintas terhenti dan suara klakson mulai ramai terdengar.

Sementara itu, karena benturan di kepala, Upik jatuh pingsan. Sang Ibu berteriak-teriak kepada suaminya berusaha memberitahu kalau si Upik pingsan. Tetapi Sang Suami terus beradu mulut dengan sopir Angkot itu. Baru berhenti ketika Anto berlari menyusul Sang Ayah dan menarik tangannya. Sempat agak lama, baru setelah Si Ayah berhasil merebut SIM Sopir Angkot itu mereka kembali ke mobil. Sang Ayah kaget melihat si Upik sudah tergeletak pingsan. Buru-buru ia mengangkatnya dan memindahkan kebelakang. Untung, pintu depan masih bisa dibuka sehingga mereka bisa membawa Upik ke Rumah Sakit terdekat tanpa harus mencari kendaraan lain. Perjalanan ke Rumah Sakit agak sulit karena lalu lintas di seputar perempatan itu terlanjur macet.

Upik harus menjalani perawatan serius karena pendarahan di otaknya sempat membeku. Timbul penyesalan Si Ayah karena tidak membawa lebih cepat Upik ke Rumah Sakit. Padahal itu bisa ia lakukan. Tetapi pada saat kejadian, justru yang lebih ia perhatikan adalah kerusakan mobilnya. Ia mati-matian "berjuang" agar si sopir Angkot bertangngungjawab memperbaiki kendaraannya. Ia sadar bahwa itu semua akhirya tak berarti apa-apa. Terbukti sampai beberapa waktu kemudian Sopir Angkot itu tidak nongol, meski SIM sudah ia pegang. Terlebih, sebenarnya kendaraan itu sudah diasuransikan. "Apa sebenarnya yang saya cari? Bukankah keadaaan Upik justru lebih penting daripada kerusakan mobilnya?"

Belajar dari apa yang dialami ayah Upik, semua orang bisa menghadapi peristiwa sama. Alternatif keputusan yang bisa diambil juga sama. Waktu yang disediakan untuk mengambil keputusan pun sebenarnya juga sama. Yang membedakan adalah seberapa besar dan sensitif ego-nya. Karena pada dasarnya semua masalah bisa diselesaikan, tetapi seringkali ego kuta justru membuatnya lebih buruk.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Budi

"Sesungguhnya tidak ada yang terlalu besar dan terlalu sepele untuk sebuah perbuatan baik."

Pernah nonton film berjudul Pay it Forward, film yang dibintangi oleh Kevin Spacey, Helen Hunt dan Haley Joel Osement? Kalau belum, sempetin deh nonton. Saya tidak tahu apakah di jual DVD-nya sekarang, tapi kalau pun susah mendapatkannya, Anda bisa pergi ke rental untuk pinjam barang semalam untuk ditonton bersama keluarga di rumah. Kalau tidak salah saya juga pernah menyinggung-nyinggung film ini beberapa waktu lalu. Dan saya memang tidak bosan-bosan merekomendasikan film ini sebagai salah satu tontonan keluarga yang paling baik.

Pay it Forward didasarkan novel dengan judul yang sama ditulis oleh Chaterine Ryan Hyde yang juga menulis Funeralas of Horse dan Earthquake Weather. Dari sebuah peristiwa kecelakaan mobil lalu ditulis menjadi sebuah novel, dibuat film dan videonya, dan sekarang sudah menjadi sebuah gerakan dan bahkan yayasan khusus dibentuk.

Apa sih Pay it Forward? Sederhana, novel dan film ini mengajarkan prinsip kepada kita bahwa daripada membayar hutang budi kembali kepada orang yang sudah berbuat baik kepada kita, sebaiknya kita membayarnya dengan melakukan perbuatan baik yang setimpal kepada 3 orang lain di sekitar kita. Demikian pula 3 orang yang sudah menerima bantuan / perbuatan baik kita, masing masing akan melakukannya juga untuk 3 orang lain, sehingga tercapai rantai multiplikasi perbuatan baik yang tak terputus. Dunia akan dipenuhi dengan perbuatan baik pada akhirnya. Bagus bukan?

Kita semua tentu merasa bahagia apabila kita bisa melakukan sesuatu untuk sesama. Sekecil apa pun itu, karena sesungguhnya tidak ada yang terlalu besar atau terlalu sepele untuk perbuatan baik. Ketika saya menuliskan kisah kakek penjual papan cuci kayu di Pondok Indah tahun lalu, banyak sekali respon masuk ke mailbox saya, dari yang sekedar mengiyakan sering melihat si Kakek, sampai yang mempertanyakan "ending" tulisan saya, "Kok cuma titip salam?".
Saya memang tidak melakukan sesuatu untuk si Kakek. Yang saya bisa lakukan menuliskannya, menceriterakannya kepada Anda semua. Hanya itu. Selebihnya, saya percaya akan ada tangan-tangan yang kemudian bekerja melakukan sesuatu. Termasuk barangkali banyak orang yang kemudian membeli papan cuci kayu si Kakek. Kutipan email ini di bawah ini salah satunya. Atas ijinnya yang bersangkutan saya mengcopy-paste dari email yang dikirimkan ke saya:
".... Ketika itu ibu saya punya nazar , apabila dapet rezeki ingin memberikan sebagian kecil kepada kakek dan nenek yang ada di jlan kartika utama ( wkt itu saya tidak memperhatikan ).Akhirnya terlaksana juga nazar tersebut... ketika itu saya diantar ibu saya ke kantor, kebetulan kantor saya di radio dalam, sangat dekat dari rumah.....dan waktu itu memang kakek& nenek tersebut sedang duduk di jalan itu.... Kemudian mobil kami berhenti dan ibu saya memberikan..yaaaahhhh gak banyak lah... mungkin hanya cukup untuk makan mereka selama seminggu saja.....tapi yang penting niat ibu saya ikhlas.

Ibu saya memberikan uangnya kepada kakek tersebut.... tapi si kakek diem saja, yang menghampiri mobil kami hanya si istri.....( sepertinya si kakek buta, kasian ya... ) tapi hari itu ibu saya gembira sekali... Akhirnya niat beliau terlaksana juga...

Dan saya pun berniat seperti itu....dan alhamdullah setelah gajian awal bulan juli
ini bisa juga memberikan hanya sebagian kecil untuk kakek & nenek ....


Sekali lagi, tidak ada yang terlalu besar atau terlalu sepele untuk sebuah perbuatan baik. Just do it. Lakukan. Anda tidak perlu berpikir panjang untuk melakukan sesuatu yang baik. Terlebih perbuatan baik Anda itu tidak sekedar balas budi kepada orang yang telah berbuat baik kepada Anda. Karena mereka barangkali tidak memerlukannya ... saya percaya banyak orang lain justru yang membutuhkan bantuan Anda. Pay it forward!

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Keluarga

"Ada berbagai jenis tanggungjawab, demikian pula bobotnya. Ketika Anda memutuskan untuk menikah dan membina keluarga, Anda telah mengambil tanggungjawab terbesar dalam hidup."

Menjelang berakhirnya liburan sekolah awal tahun ini, seorang ibu menemukan secarik kertas penuh dengan coret-coretan limpahan emosi di meja belajar anak perempuannya. Sesuatu yang sedikit mengejutkan tetapi juga mengharukan ia baca dari tulisan tangan anak kelas 3 SD itu.

Ia menunjukkan coretan itu ke suaminya sepulang kantor. Sang suami tertegun, " ... hari ini ... papa pergi ke kantor tapi nggak bilang-bilang sama aku, kemarin papa nggak bilang apa-apa ke aku, nggak bilang cutinya habis, ada con-call, ada rapat dan lain-lain (gambar muka sedih). Kemarin papa cuma bilang nyerahin foto ke kantor imigrasi terus langsung pulang (gambar muka sedih lagi), hiks hiks hiks ... Dani (adiknya) untungnya udah agak baikan, tapi sakit giginya mama terus berlanjut (gambar muka sedih lagi) ..." Seterusnya, gambar-gambar yang ia coretkan menunjukkan betapa sisa liburannya terasa sepi baginya.

Suami-isteri itu saling berpandangan, seolah tak percaya bahwa situasi dan kata-kata klise yang biasa menjadi tema sinetron dan pembahasan para psikolog itu --kerinduan seorang anak atas kehadiran dan kehangatan perhatian anak dari kedua orangtuanya-- benar-benar terjadi, justru di tengah-tengah keluarganya. Setidaknya terlihat dari coretan lepas tulisan tangan anak perempuan mereka.

Kehidupan metropolitan Jakarta (lagi-lagi saya harus menuliskan pernyataan yang sudah umum ini) memang tidak ideal bagi kehidupan anak-anak. Orantua yang rata-rata "angkatan 59" (berangkat jam 5 pagi dan pulang ke rumah jam 9 malam) tidak mempunyai kualitas kontak emosi yang cukup dengan anak-anak mereka. Kerap ini dituding sebagai sumber bencana bagi kehidupan anak-anak, entah perilaku kenakalan, persoalan NARKOBA dan seks bebas. Suami-iseteri itu tersadar, apa yang mereka baca dari majalah, koran dan juga digambarkan secara membabi-buta oleh sinetron-sinetron memang benar adanya. Setidaknya anak permpuan mereka telah menyatakannya ...

Hari ini, Senin, ketika Anda mulai membuka komputer Anda di kantor, seperti biasa Anda akan segera menghadapi banyak hal yang mungkin akan menyita energi dan waktu Anda. Sebagai orang yang sudah diberikan tanggungjawab, Anda harus mengerjakan tugas pekerjaan itu dengan sebaik-baiknya. Dengan upaya yang maksimal. Tetapi ijinkan saya mengingatkan, bahwa di luar pekerjaan di kantor, Anda juga mempunyai tanggungjawab yang tidak kalah penting. Terutama bagi Anda yang sudah menikah, Anda mempunyai tugas istimewa yang Anda emban: menjalankan kehidupan keluarga yang sudah Anda mulai. Suami atau isteri serta anak-anak Anda di rumah selalu merindukan kehadiran dan kehangatan kasih Anda. Dan harap dicatat, Anda justru harus mempertanggungjawabkan tugas-tugas dalam keluarga ini kepada "boss dari segala boss", Dia yang selama ini telah memerikan kesempatan begitu besar kepada kita. Bukankah ini sebuah tanggungjawab yang luar biasa?

Selamat pagi dan selamat n

Perangai

"Sama halnya character dalam sistem alpabet yang baru mempunyai arti jika dikombinasikan menjadi kata-kata dan kalimat, untuk menjadi pribadi yang efektif pun Anda harus mengelola character Anda."

Arief namanya. Tetapi tingkahnya tak searif namanya. Ia adalah (pewaris) pengusaha kaya raya yang masih menganggap uang dapat membeli segala-galanya. Ia masih muda tetapi terkenal mempunyai perangai yang sangat buruk. Bahkan ketika ia sudah menikah dan punya 2 anak. Entah berapa pembantu, sopir dan pegawai yang ia pecat. Bahkan isteri dan anak-anaknya pun lebih berbahagia kalau ia tidak berada di rumah.

Maka, jangan coba-coba membuat masalah dengannya. Sekecil apa pun itu. Salah bicara, tidak menepati janji, apalagi mengotori atau merusakkan barangnya. Bisa-bisa Anda digetok dengan gagang pistol (harap maklum, sebagai pengusaha ia mendapatkan ijin khusus kepemilikan senjata bela diri). Pegawai bank, restoran, bengkel dan tukang yang sering berhubungan dengannya sudah hapal betul dengan perangai bapak satu ini. Maka mereka sangat hati-hati dalam melayaninya. Meski setelah itu mereka akan cekikikan menirukan tingkahnya.

Suatu ketika ia marah-marah sejak pagi. Tidak jelas apa yang menjadi penyebabnya, tetapi kemarahan itu terus berlanjut saat ia sudah naik mobil menuju ke kantornya. Pak Ahmad, 60, sopir yang baru 2 bulan bekerja menggantikan sopir sebelunya pun tak luput kena damprat. Hanya karena jalan terlalu lambat (padahal sih biasa-biasa saja) kata-kata kebun binatang meluncur tak bisa dibendung. Mobil mewah seri 7 itu jadi tak senikmat kemewahan features-nya. Bahkan instrumental gitar Francis Goya yang berdenting lembut lewat sound-system standar kendaraan mewah itu terasa panas. Bak neraka berjalan. Tetapi Pak Ahmad, sang sopir, tetap berusaha tenang. "Pantas, sopir-sopir sebelumnya banyak yang tidak kerasan." ucapnya dalam hati. Ia sadar, ia hanya menjadi pelampiasan karena ia tidak merasa melakukan kesalahan apa pun.
"Cepat! @$#%$@!! Terus jangan berhenti! Ambil kanan!!" teriak Arief, selalu memerintahkan Pak Ahmad mendahului kendaraan lain dan bahkan menerobos lampu merah.
"Hey saya bilang terus, #$%^$#%$#!! Kenapa berhenti??? Masih kuning itu! Terus!! Dasar %^$#%^$#^%!!!" Hebatnya, meski hardikan, makian dan kata-kata kotor terus meluncur, Pak Ahmad tidak terpancing emosinya. Ia tetap melambatkan kendaraan dan berhenti di setiap lampu merah. Ia tak peduli dengan perintah-perintah tak lazim majikannya itu, karena ia tahu itu melanggar aturan lalu-lintas dan membahayakan orang lain serta mereka sendiri.

Tentu, tindakannya itu membuat Arief semakin naik pintam, "$@#$@%$!! Sesampai di kantor kamu pulang dan jangan bekerja lagi besok!" Tentu perkataan tuannya ini tak diduga sama sekali oleh Pak Ahmad. Bak petir di pagi bolong, Pak Ahmad serta merta meminggirkan kendaraan di tengah keramaian lalu lintas Jakarta.
"Baik," katanya sopan setelah menghentikan kendaraan. Sambil menengok kebelakang ia berkata, "Bapak ini sudah tua Nak Arief, yang Bapak punyai hanya niat untuk bekerja sebaik mungkin. Kalau Nak Arief tidak cocok dengan Bapak, tidak usah sampai kantor. Silahkan Nak Arief mengambil alih kemudi sekarang. Bapak mau pulang."

Arief terperanjat setengah mati mendapatkan reaksi seperti itu dari sopir barunya. Seumur-umur baru kali ini ia punya sopir yang "berani" dan bahkan memanggilnya "Nak Arief". Belum hilang rasa kagetnya, Pak Ahmad kembali menimpali, "Jangan diteruskan kebiasaan Nak Arief seperti ini, Bapak cuma takut kalau nanti sedang membawa Ibu dan anak-anak, Bapak terbiasa menerobos lampu merah ... bisa membahayakan jiwa mereka. Silahkan, Bapak mau pulang sekarang." katanya sambil menyerahkan kunci mobil ke Arief.

Entah karena gengsi, Arief tidak menanggapi omongan Pak Ahmad. Ia merenggut kunci mobil dari tangan Pak Ahmad, bergegas pindah ke depan dan segera tancap gas meninggalkan Pak Ahmad yang masih berdiri di pinggir jalan dengan tatapan mata prihatin.

Hanya sampai di sini cerita yang saya dapat, tetapi yang sungguh-sungguh saya catat adalah bahwa kita semua mengenal Arief-Arief lain di sekeliling kita. Ia mewakili orang-orang di planet ini yang menyerahkan dirinya untuk dikemudikan oleh peranginya sendiri. Ia terlalu self-centric, sangat fokus terhadap dirinya sendiri, tidak cakap untuk memainkan kecenderungan karakter dasarnya terhadap lingkungan yang dihadapi. Orang macam ini bagaikan orang yang senantiasa salah kostum di setiap kesempatan yang ia hadiri. Padahal untuk menjadi pribadi yang efektif, kita harus pintar-pintar mengelola kecenderungan dasar, character kita. Bukankah begitu?

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Tumben

"Akan ada banyak hal yang tidak biasa dalam hidup. Yang diperlukan bukan lah membiasakannya, tetapi berlatih untuk bisa menghadapinya."

Ada beberapa hal yang tidak biasa saya alami pagi ini. Anak perempuan saya tumben-tumbennya sudah rapi dengan baju seragam sekolahnya ketika saya bangun. Padahal boro-boro rapi, bangun pun harus diopyak-opyak. Tumben pula petugas satpam perumahan di mana saya tinggal hari ini tidak kelihatan. Padahal, biasanya salah seorang dari mereka selalu berdiri di depan gerbang serta melambaikan tangan dengan gaya mereka yang khas. Saya merasa ada hal yang tidak biasa juga ketika saya menyadari bahwa jalan tol Serpong-Bintaro yang saya lewati pagi hari ini juga terasa lengang. Yang lebih mengherankan, petugas pintu tol Pondok Pinang pagi hari itu --dan hanya pagi hari itu sepanjang yang saya catat sampai hari ini-- melempar senyum sambil menyapa, "Pagi Pak!" sebelum menerima karcis dan pembayaran dari saya.

Ada apakah hari ini gerangan? Saya jadi bertanya-tanya. Mungkinkah ini merupakan tanda-tanda, firasat atau sesuatu yang mengawali sebuah peristiwa besar? Atau, apakah saya yang terlalu sensitif? Bahwa ketidakbiasaan yang saya alami sebenarnya hal yang biasa-biasa saja? Dengan kata lain, saya lah yang tidak biasa dari biasanya. Begitu kah?

Tetapi tidak juga. Karena kembali saya harus menjadi saksi kejadian yang masuk kategori di luar kebiasaan. Entah kenapa, jalanan yang membelah antara Plaza Semanggi, Universitas Atma Jaya, Rumah Sakit Jakarta dan Apartemen Aston tiba-tiba bisa menghentikan ratusan kendaraan yang lewat. Padahal waktu baru menunjukkan pukul 07.27 WIB. Kemacetan itu bahkan menyebabkan kendaraan dari arah Gatot Subroto yang masuk Plaza Semanggi dan keluar kembali di samping Universitas Atma Jaya terhenti juga. Saya lihat wajah-wajah cemas bertebaran di balik kaca sambil bergumam penuh tanda tanya. Saya bukan pembaca bibir yang baik, tetapi jelas gerakan bibir mereka rata-rata berbunyi, "Ada apa sih?", "Ngak biasanya begini ..." dan sejenisnya.

Usut punya usut penyebabnya ternyata jalanan di depan Apartemen Aston sedang dicor dengan semen di salah satu sisinya. Pinter tenan! Pagi-pagi begini kok bisa-bisanya dengan sengaja melakukan pekerjaan pengecoran jalan. Alhasil, kemacetan terjadi luar biasa!

Manusia Jakarta sudah terbiasa dengan kemacetan. Tetapi membiasakan untuk menjadi biasa ternyata tidaklah cukup. Terbukti sedikit kemacetan (bukan bencana besar) pagi hari ini telah membuat kepanikan yang tidak perlu. Akan ada banyak peristiwa dalam hidup di luar kebiasaan yang mungkin terjadi. Oleh sebab itu siap dan bisa menghadapi hal yang tidak biasa adalah faktor penting yang harus terus dilatih.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Sampah

"Kita semua kelak bisa menjadi 'orang tua' yang baik tetapi jarang dari kita yang bisa menjadi 'orangtua' yang baik."

Di perempatan lampu merah Pondok Indah, hari Rabu pagi, 22 Nevember 2006, pukul 6:28 WIB, Suzuki Minibus APV berwarna biru merangsek pelan di depan mobil kami. Berhenti karena lampu merah menyala. Mendadak kaca pintu samping kanan pelan terbuka dan dari balik kaca muncul plastik bekas bungkus makanan dilempar keluar oleh penumpang di dalamnya. Astaga! Secara reflek saya membunyikan klakson dua kali, memprotes tindakan penumpang APV yang membuang sampah sembarangan itu. Isteri dan anak saya pun tak kurang kagetnya. Maklum, kami semua memang termasuk orang yang tak pernah bisa rela melihat orang membuang sampah sembarangan.

Belum lagi hilang kekagetan kami, mendadak muncul sebuah tangan dari balik kaca jendela mobil itu, mengacungkan jari telunjuk tengahnya ke arah kami. Astaganaga! Kekagetan kami berlipat ganda. Saya dan isteri berpandangan dengan ekspresi muka amit-amit jabang bayi! Makhluk apakah gerangan yang ada di dalam mobil Suzuki APV itu? Kalau pun manusia, bagaimana mungkin ia bisa melakukan itu? Membuang sampah dari atas kendaraan seenaknya?Kemudian justru tega mengacungkan telunjuk jari tengahnya ke atas, ketika kami peringatkan? Waduh, sudah sedemikian parahnya sikap mental manusia Jakarta ini ...

Kami tidak bisa melihat wajah manusia-manusia di dalam kendaraan itu. Bahkan ketika kami menyalipnya. Kaca terlalu gelap untuk bisa melihat ke dalam kendaraan. Tetapi kalau melihat ukuran tanggannya, kami menduga tangan itu bukan milik orang dewasa. Jadi saya pribadi ada sedikit perasaan maklum karena yang melakukannya mungkin anak-anak. Namun demikian isteri saya bersikap berbeda. Justru karena dia masih anak-anak, etiket sepele membuang sampah harus diajarkan oleh orangtuanya dengan benar. Siapa orangtua anak itu? Orangtua macam apa yang memperbolehkan anak (at least tidak pernah melarang atau wanti-wanti kepada anak-anaknya) membuang sampah sembarangan? Apakah mereka tidak mampu beli kotak sampah untuk mobil mereka? Mereka toh bukan dari kalangan yang tidak berpendidikan? Paling tidak dari ukuran kendaraan yang dipakai ... isteri saya terus mempertanyakannya. Sebenarnya siap enggak sih mereka jadi orangtua?

Pertanyaan terakhir isteri itu yang menggelitik pemikiran saya. "Siapkah mereka menjadi orangtua?" merupakan pertanyaan sangat relevan dipertanyakan kepada pasangan-pasangan muda sekarang. Meskipun bisa diduga kebanyakan jawabannya, "Siap!" kenyataannya, dalam hal-hal sepele (seperti soal kedidisiplinan membuang sampah anak-anak kita) menunjukkan ketidaksiapan kita menjadi orangtua. Kita gagal menjadi orangtua karena tidak bisa mentransformasikan nilai-nilai etika standar yang paling universal ke anak-anak.

Oleh sebab itu, bagi pasanngan muda yang hendak menikah, saya ingatkan bahwa menjadi "orangtua" itu berbeda dengan hanya sekedar menjadi "orang tua". Kita semua akan menjadi "orang tua" baik nantinya, tetapi tidak semua dari kita bisa menjadi "orangtua" yang baik. Bukankah ketika kita menikah kebanyakan dari kita memang belum pernah punya pengalaman menjadi orangtua? Kebanyakan pasangan muda sekarang put much effort untuk hal-hal seremonial belaka dan justru lupa bahwa pernikahan dan being a parent membutuhkan tanggungjawab besar.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Cukup (2)

"For the love of money is a root of all evils - akar dari semua kejahatan adalah cinta uang." - Timothy Book

Kapan Anda terakhir mengucapkan kata "cukup"? Kemarin, seminggu lalu, sebulan, atau sometimes di tahun yang sudah kita lewati?

Jujur, kita lebih gampang untuk mengatakan cukup, manakala sesuatu terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita atau kita tidak confortable untuk menjalaninya. Lihatlah di sinetron-sinetron, adegan kekerasan dan penyiksaaan biasanya dilengkapi dengan teriakan "Cukuup! cukup!" dari si korban. Atau Anda tidak suka dengan polah anak yang keterlaluan, Anda akan menghardik dengan kata-kata, "Cukup Aldo!" dan seterusnya.

Jarang kita mengatakan cukup, kalau sesuatu yang enak sedang berlangsung. Paling-paling Anda akan bilang, "Cukup," bila ditawarkan tambahan minuman atau makanan dan Anda merasa sudah kenyang. Kata cukup yang Anda katakan pun sebagai bentuk reaksi dan antisipasi akan ketidaknyamanan yang mungkin terjadi, yaitu kekenyangan.

Kutipan hari ini mengingatkan bahwa manusia tidak pernah merasa cukup dengan uang. Kecepatan keinginan dan kebutuhan melampaui kecepatan kemampuan dan pendapatan kita, sehingga kita tid ak pernah merasa cukup. Padahal rasa tidak cukup akan membawa kita kepada orientasi prioritas dan passion kita terhadap sesuatu yang dapat menaikkan daya beli yaitu uang. Padahal lagi, "cinta uang" merupakan akar segala kejahatan.

Kapan Anda merasa cukup? Selamat bekerja n

Merdeka

"Penjajahan terbesar dalam hidup kita adalah berupa kebohongan terhadap diri sendiri. Hanya roh kebenaran yang akan memerdekakan kita."

Seorang pegawai sebuah hypermarket menceritakan suka-dukanya sebagai customer services di perusahaan itu. Terutama bagaimana menghadapi para pelanggan. "Orang itu memang macam-macam!" katanya.

Memang. Kita barangkali tidak akan pernah menyangka atau berharap tetangga dan saudara kita berperilaku aneh-aneh dalam keseharian mereka, tetapi ketika mereka dihadapkan / ditantang soal kebutuhan hidup atau harga diri, maka saya yakin perilaku "mengejutkan" akan muncul. Bukankah karakter dasar seseorang akan mendorong perilaku yang berbeda ketika mereka sedang dalam pressure atau tersentuh ego-nya?

Seorang ibu misalnya, tiba-tiba meledak luar biasa marahnya ketika tahu barang yang ia beli tidak ada lagi di stock kecuali yang ada di display. "Nggak usah jualan kalau nggak ada barangnya!" katanya. Kenapa sih harus sampai marah sebegitu heboh? Atau, seorang ibu lainnya yang juga mencak-mencak gara-gara merasa dikubuli oleh kalimat promosi "BELI SATU DAPAT DUA" yang dipasang di koran, promotion catalog dan poster di sepanjang gerai. "#%$#* !! Lain kali tulis yang benar. Beli satu bonus satu! Kalau bilang beli satu dapat dua, ya harus dikasih tiga dong!" katanya sengit. Belum lagi pelanggan yang sangat super cermat terhadap perbedaan harga antara yang ditempel di display dengan yang tertera di struk pembelanjaan. Bahkan ada juga pembeli yang hobby-nya menukar-nukar barang yang sudah dibeli dengan alasan yang dicari-cari.

Orang bisa melakukan sesuatu yang "aneh-aneh" --paling tidak menurut norma umum yang berlaku-- lebih dikarenakan rasa kekawatiran dan ketakutannya sendiri. Sayangnya, ketakutan terhadap apa, kadang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan. Untuk memberikan kenyamanan mereka mengkompensasinya dengan perwujudan perilaku mereka yang sebenarnya merupakan penipuan besar terhadap diri mereka sendiri. Mereka --karena kekuatiran dan ketakutannya-- tidak bisa bersikapapa adanya. Mereka membohongi diri sendiri dengan berbagai macam bentuk perilakunya.

Kita semua sedang mengalami penjajahan terbesar dalam hidup. Hanya roh kebenaran yang dapat membebaskan kita. Seperti pasukan perdamaian PBB, undang roh kebenaran itu masuk ke dalam hati kita, dan biarkan ia bekerja. Maka kita akan menjadi manusia merdeka.

Dirgahayu Indonesia. Merdeka! n

Panggung

"Seperti seorang penari di depan ribuan penonton, melakukan yang terbaik bukanlah sebuah pilihan, tetapi keharusan."

Seorang ibu mengeluh karena anaknya yang baru kelas 3 SD bermental minimalis. "Itu anak emang! Nggak ngerti saya harus bagaimana ..." keluhnya kepada ibu yang lain.
"Kasih dong rewards kalau berprestasi." ibu yang lain menyahut.
"Kurang apa sih dia?! Mainan juga nggak kurang, jalan-jalan juga sering!"
"Kurang ajar sih enyak-nya ..." sahut ibu yang lain disambut tawa riuh.

Tidak hanya anak-anak, manusia dewasa pun banyak yang bersikap minimalis. Nyaris tidak ada gairah untuk mencapai sesuatu yang lebih. Boro-boro lebih, karena untuk mencapai hal yang sewajarnya saja nggak ada semangat. "Ngapain sih susah-susah, gini aja oke kok. Orang lain nanti yang malah yang dapet enaknya." begitu barangkali alasan meraka.

Padahal, kata Purnawan EA, seorang pembicara yang sudah puluhan tahun menggeluti bidang hypnotherapy dan mental game, sikap yang demikian itu justru akan berdampak negatif terhadap dirinnya sendiri. Bukan orang lain atau siapa pun yang berhubungan dengannya. Kita semua ini ibarat penari yang tampil di atas panggung dengan ribuan penonton. Menari dengan baik adalah sebuah keharusan, bukan sekedar pilihan. Karena kalau kita tampil jelek, maka yang akan mendapatkan cemoohan adalah kita sendiri, bukan panggungnya, bukan MC-nya.

Nah, betapa pun Anda merasa lelah, jenuh, memendam perasaan kecewa yang mendalam untuk "panggung" pekerjaan, role and responsibility yang Anda pegang saat ini, ingatlah bagaimana pun Anda sedang berada di atas panggung dengan ribuan penonton di depan mata. "Menarilah" dengan sebaik-baiknya.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Tanggungjawab (2)

"Dua jalan untuk menjadi manusia yang bertanggungjawab: membiasakannya sejak kecil atau menunggu sampai keadaan memaksanya."

"Adek maem ya?"
"Nggak mau!"
"Kakak juga makan nih, disuapin ya?"
"Nggak mau!"
"Nanti waktunya habis lho."
"Ntar ah!"
"Mbak bilangin ibu kalau Adek nggak mau makan!"
Mendengar kata-kata sakti sang Kakak ini, si Adik yang semula tak bergeming mulai beringsut untuk membuka mulutnya dan menerima suapan dari sang Kakak. Satu dan dua suapan berhasil masuk, tetapi pada suapan ketiga si Adik mulai bertingkah kembali.
"Cukup ah!"
"Lho, baru dua suap ... empat suap lagi deh!"
Seterusnya kakak beradik itu makan bersama dari satu tempat bekal yang sama. Bergantian sang kakak menyuapkan nasi dan potongan sosis goreng diujungnya untuk dirinya sendiri, kemudian ia juga menyuapi adik laki-lakinya yang duduk persis disebelahnya.

Sampai di sini barangkali kita tidak merasakan sesuatu yang istimewa dari apa yang dilakukan dua anak itu. Tetapi bila Anda tahu bahwa adegan itu dilakukan oleh kakak beradik yang masih berusia 7 dan 5 tahun, dengan seragam dan tas sekolah lengkap, serta dilakukannya di atas Mikrolet, Anda pasti akan berpikir lain.

Kedua anak itu naik sebuah Mikrolet trayek Lebak Bulus - Kebayoran Lama dari Pondok Pinang di suatu pagi antara pukul 5:45 sampai 6:30 an WIB. Seperti biasa mereka berangkat ke sekolah di daerah Bungur, Kebayoran Lama bersama-sama tanpa diantar atau dijemput orangtuanya. Menilik seragam sekolah dan topi yang mereka kenakan, si kakak perempuan kira-kira kelas dua SD dan adik laki-lakinya masih di Taman Kanak-kanak.

Luar biasa. Sebagian penumpang yang mayoritas ibu-ibu seolah menahan napas haru, ketika harus melihat adegan kedua anak ini di sepanjang perjalanan. Sang Kakak begitu telatennya menyuapi si Adik dan sang Adik pun, meski kelihatan tidak selera makan tetapi menuruti perkataan sang Kakak. Apakah mereka masih punya orangtua? Lalu kenapa mereka membiarkan anak-anak sekecil ini berangkat sekolah dan pulang dengan kendaraan umum sendirian?

Seorang ibu yang duduk di seberang mereka mengajak mereka bercakap. Rupanya memang kedua anak itu terbiasa berangkat dan pulang sekolah bersama-sama tanpa diantar orangtuanya. Bahkan sang Kakak juga harus bertanggungjawab untuk memastikan si Adik juga sarapan pagi dengan baik. Dan tanggungjawab itu pun harus dilakukanya di atas Mikrolet! Sesuatu yang mungkin sulit dilakukan oleh seorang ibu sekalipun. Sayangnya, pertanyaan-pertanyaan belum terjawab ketika dua anak itu harus turun di sekolah mereka daerah sekitar Jalan Bungur, Kebayoran Lama.

Saya lalu teringat akan cerita anak saya tentang kekonyolan salah seorang teman sekelasnya (kelas 2 Sekolah Dasar) yang terpaksa harus "pup" di sekolah, berteriak-teriak sedemikian rupa memanggil "Mbak"-nya karena tidak bisa --maaf-- cebok sendiri. Juga beberapa temannya yang kalau makan siang masih disuapi oleh "Mbak"-nya masing-masing. Padahal, usia mereka nyaris sama dengan si Kakak dalam Mikrolet di atas. Sedemikian kontras.

Betapa pun kita tidak bisa membandingkan begitu saja teman-teman anak saya ini dengan dua anak penumpang Mikrolet di atas --karena memang hidup dan kehidupan yang mereka jalani berbeda-- tetapi jelas ada sesuatu yang sangat mendasar dan universal harus kita pahami di sini. Bahwa bagaimana pun seorang anak harus belajar melakukan tanggungjawabnya sejak kecil. Bukan berarti membebani dengan pekerjaan dan tugas yang sebenarnya menjadi porsi orangtua seperti apa yang dilakukan Si Kakak dalm Mikrolet di atas, tetapi cukup berlatih untuk bertanggungjawab dengan kebutuhan dan kehidupannya kebutuhan mereka sendiri. Bukankah sangat tidak wajar, anak usia 7 tahun masih harus dibantu --maaf-- cebok atau disuapi ketika makan?

Ada dua jalan bagaimana kita bisa menjadi menjadi manusia yang bertanggungjawab. Pertama, membiasakannya sejak kecil; atau kedua, situasi dan keadaaan yang memaksa kita melakukannya.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Asli

"Seperti sebuah handphone, Anda bisa berganti-ganti "casing". Tetapi siapa Anda sesungguhnya bukan ditentukan oleh "casing" yang Anda pakai."

Perkembangan kosmetika wajah sedemikian dahsyat. Untuk wilayah yang luasnya tak lebih dari 80 sentimeter persegi itu manusia mempertaruhkan milyaran dollar untuk berbagai macam bentuk bisnis industri kosmetika dan alat kecantikan. Mulai dari alas bedak, lipstik, sampai eye-shadow. Jujur --terutama kaum perempuan-- berapa persen gaji Anda tiap bulan tersedot untuk urusan poles-memoles wajah ini?

Inikah potret manusia modern? Atau ini memang kecenderungan dasar manusia yang semakin hari semakin dimantapkan oleh kemajuan pemikiran dan tehnologi? Para wanita jaman dulu cukup menggunakan minyak cem-ceman untuk menghitamkan rambut. Sekarang cat rambut menjadi pilihan yang lebih masuk akal.

Terlepas dari keberadaan industri kosmetika itu sendiri, agaknya manusia memang tidak bisa (dan tidak biasa) tampil apa adanya. Ketika flex wajah mulai muncul secara tergopoh-gopoh kaum perempuan menutupinya dengan alas bedak tebal, kalau tidak pergi ke special treatment. Kalau rambut mulai muncul uban, cat rambut pun menjadi penyelamat.

Dan itu tidak hanya terjadi dalam hal urusan penampilan fisik. Manusia juga banyak mengenakan "topeng-topeng" untuk menutupi (baca: menyembunyikan) perilaku negatif mereka. Orang banyak bermain sandiwara. Kepalsuan di mana-mana.

Oleh sebab itu tidak heran kalau saya yang jarang nonton tivi tiba-tiba terpaku kepada sebuah tontonan reality show yang bertajuk Taxicab Confession. Sebuah program serial panjang jaringan televisi kabel HBO yang mengetengahkan rekaman genuine para penumpang taksi yang diambil dari kamera tersembunyi. Serial itu telah merekam banyak percakapan dan perilaku apa adanya para penumpang taksi, apakah itu sekedar omongan biasa, gosip, isu politik, SARA, masalah seksual dan bahkan aksi-aksi ekstrem para penumpang taxi dengan acting dan angle yang benar-benar asli. Tentu para penumpang kemudian diberitahu bahwa mereka telah direkam dan diminta untuk menandatangani persetujuan untuk disiarkan. Sopir yang dipilih adalah "aktor" yang bisa memainkan perannya untuk mengarahkan dan menggiring pembicaraan atau bahkan mengkonfrontirnya mereka secara alami. Hasilnya luar biasa. Dalam sebuah episode saya melihat kisah penuturan penderitaan penjaja seks komersial waria yang diceritakan secara gamblang kepada "sopir taksi" yang tak lain adalah host acara itu. Begitu asli, begitu alami, dan sungguh-sungguh merupakan dokumentasi kehidupan riil manusia, tanpa "topeng-topeng"-nya.

Tetapi saya sadar kemudian, betapa pun rekaman yang disuguhkan itu asli, itu hanyalah sebuah tontonan. Di luar kotak ajaib televisi itu, bahkan di luar acara Taxicab Confession itu, manusia masih (dan akan selalu) sibuk dengan "topeng-topeng"-nya. Termasuk saya barangkali. Tidak tahu, berapa banyak "topeng-topeng" yang kita miliki ... dan kapan kita rela menanggalkan serta membuangnya satu per satu. Yang diperlukan hanya satu: keteguhan dan rasa percaya diri yang kuat.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Tips

"Kebanyakan orang memberikan tips sebagai apresiasi terhadap pelayanan yang telah dilakukan seseorang, tetapi sebagian orang menjadikannya sebagai alat kekuasaan."

Dalam perjalanan pulang dari San Jose, California saya harus transit beberapa jam di Los Angeles. Saya putuskan untuk mengisi waktu dengan mengikuti satu program city tour yang banyak ditawarkan operator wisata di sana. Lumayan mahal karena saya harus membayar lima puluh delapan dollar hanya untuk tur selama beberapa jam.

Pemandu wisata yang sekaligus pengemudi van yang membawa kami keliling terlihat sangat professional. Pria negro yang mengaku bekerja hanya beberapa jam seminggu itu adalah pensiunan polisi. Tak heran kalau ia hapal benar dengan seluk beluk kota LA, termasuk daerah-daerah rawan. Sejak kami berangkat ia tak pernah berhenti bicara. Dengan gayanya yang kocak kami dibawa keliling dari Marina del Ray pelabuhan terbesar pehobi kapal boat, Hollywood, Beverly Hills sampai Farmers Market.

Ada sesuatu yang menarik perhatian saya dari Mike --demikian panggilan pemandu wisata itu-- karena berulangkali ia menyebut-nyebut soal tips. Ini dilakukannya di sela-sela obrolan santainya mengenai kota LA. "Seperti yang kalian baca di atas ini," katanya sambil terkekeh dan menunjuk sticker berukuran 10 x 20 cm yang tertempel di atas kaca depan van itu, "Fifteen percent grattitude is appreciated ... Kalian adalah tamu saya, dan saya memberikan yang terbaik for this great city tour!" tambahnya tanpa tedeng aling-aling. Saya memang pernah mendengar soal "keharusan" memberikan tips di Amerika Serikat, tetapi saya tidak pernah menyangka bahwa mereka begitu terbuka dan terus terang membicarakannya.

Ketika tur selesai, satu per satu penumpang turun. Sambil mengucapkan terimakasih, mereka masing-masing memberikan tips kepada Mike. Tetapi di antara penumpang yang turun sebelum saya, terlihat sepasang suami isteri Asia berusia sekitar lima puluhan tahun tidak memberikan apa pun ke Mike, selain ucapan "Thank you!" dengan pronounciation yang cadel. Tanpa saya duga, Mike --tetap dengan gayanya yang khas-- memanggil kedua suami-isteri itu. "Hey, do you guys enjoy my tour? Are you happy?" tanya Mike. Tetapi suami isteri itu saya lihat hanya tersenyum "Something wrong with me ... or ... okay tidak apa-apa, have a good trip!" sambungnya sambil melambaikan tangan tanda good bye ketika melihat reaksi kedua suami-isteri itu cuma tersenyum-senyum di pintu.

Mungkinkah suami-isteri itu tidak memahami bahasa Inggris? Apakah mereka juga tidak bisa membaca tulisan yang ditunjuk Mike yang jelas-jelas menganjurkan peserta tour untuk memberikan tips? Apakah mereka tidak terbiasa memberikan tips? Dari negara manakah mereka? Mungkinkah mereka manusia super pelit? Ataukah mereka tidak mempunyai dollar lagi di kantongnya? Banyak pertanyaan muncul di benak, ketika saya turun. Dan pengalaman itu terbawa ketika saya sudah di atas pesawat.

"Lain lubuk, memang lain ikannya." kata saya dalam hati. Kalau di Amerika soal tips sedemikan terus-terang, di Indonesia sosoknya malah antara ada dan tiada. Ia justru menjadi momok bagi sementara orang, tetapi menjadi senjata paling efektif bagi orang-orang berduit yang malas. Tidak percaya? Kendarailah Mercedes atau BMW, dan masuklah ke pelataran parkir Mal "Anu" di Jakarta (sengaja tidak saya sebutkan terus terang), kedipkan lampu dua kali, maka petugas parkir akan memberikan ruang parkir terdekat. Tentu Anda harus mengeluarkan lembar lima ribuan sebagai tips untuk ini. Tetapi cobalah Anda masuk dengan kendaraan yang "biasa". Sepuluh kali Anda mengedipkan lampu, tak akan digubris petugas parkir.
Tipis sekali memang perbedaan antara tips sebagai alat apresiasi dan tips sebagai alat kekuasaan. Kalau di Amerika orang memang terbiasa memberikan tips sebagai tanda penghargaan, di Indonesia tips adalah alat kekuasaan. Itu sebabnya, Mal Pondok Indah di Jakarta Selatan perlu memasang tanda "DILARANG MEMBERIKAN TIPS" di area tempat parkirnya. Mereka khawatir service level petugas parkir menjadi korban kekuasaan dan "terbeli" oleh kaum berduit.

Sebenarnya tidak salah Anda memberikan tips, tetapi Anda harus yakin, dengan maksud apa Anda memberikannya. Karena itulah yang membedakan tips Anda layak diberikan atau tidak.
Selamat pagi dan selamat bekerja n

Kakek

"Kita memang tidak bisa memilih dari orangtua mana kita dilahirkan, tetapi bagaimana kita bersikap terhadap mereka sepenuhnya merupakan pilihan kita."

Kalau Anda melewati jalan Kartika Utama, Pondok Indah, di pagi hari, Anda akan menjumpai seorang kakek yang menjajakan papan cuci kayu di pinggir jalan, di antara rumah-rumah mewah di sana. Saya tertarik untuk selalu memperhatikannya karena hampir setiap hari ketika saya melewati jalan itu, ia terlihat setia menunggu pembeli. Pertanyaan yang selalu muncul dalam benak saya adalah, apakah laku? Siapa yang membeli? Apakah apakah masih ada rumah tangga --di sekitar Pondok Indah-- yang memerlukan papan cuci? Kalau pun masih, bukankah papan cuci plastik yang lebih bersih dan awet menjadi pilihan yang paling logis? Lalu, berapa nilai uang yang dihasilkan si Kakek ini? Sebandingkah dengan bahan dan kerja keras yang dilakukan untuk membuat papan-papan cuci kayu itu? Kenapa dalam usianya yang sudah senja si Kakek ini tetap bekerja dan berjualan? Di manakah keluarganya, adakah isteri dan anak-cucunya? Apakah semua yang ia lakukan memang hanya untuk mengisi hari-hari tuanya, supaya tetap ada kegiatan? dan seterusnya, dan seterusnya. Pertanyaan muncul silih berganti.

Sampai pada suatu pagi, ketika saya melewati tempat si Kakek berjualan, saya melihat ada sedikit perubahan. Nggak tahu kenapa, pagi itu si Kakek kelihatan lebih rapuh dan tidak seceria hari-hari sebelumnya. Ia terlihat kebingungan berdiri sendirian sambil memegangi pikulan kayunya. Karena lalu lintas ramai sekali, saya hanya bisa memperhatikan sekilas, dan terus berlalu mengejar waktu. Ada apakah gerangan?

Hari berikutnya saya kembali melewati jalan itu dan secara otomatis saya berusaha mencari tahu keadaan si Kakek. Di depan mobil saya ada sebuah sedan Toyota Altis yang berjalan agak pelan. Saya berusaha menyalib sedan itu, dengan harapan, pandangan saya tidak terhalang oleh kendaraan lain ketika sampai di lokasi si Kakek biasa berjualan. Agak sulit, karena sedan Altis itu agak tanggung posisinya. Baru setelah saya klakson beberapa kali, sedan itu meminggirkan posisinya ke kiri, sehingga saya bisa mendahuluinya dengan leluasa. Ketika saya lihat kesamping, oh, pantas! rupanya si pengemudi sedan itu mengemudikan kendaraannya sambil makan pagi! Hal yang biasa dilakukan para commuter, termasuk saya ketika berangkat kerja. Saya hanya bisa tersenyum kecut. "Yah, sesama bis kota nih orang!" kata saya dalam hati.
Tetapi senyum saya berangsur terhenti ketika saya kemudian mendekati lokasi si Kakek berjualan. Saya melihat pemandangan yang membuat saya trenyuh! Si Kakek penjual papan cuci itu sedang duduk di trotoar --lebih tepatnya rerumputan-- menghadap barang dagangannya, dan sedang disuapi oleh seorang wanita tua. Saya saya duga, wanita tua itu adalah istrinya yang sengaja menemaninya pagi itu!

Sambil tetap melaju mengemudikan kendaran, pikiran dan hati saya bergolak tidak keruan. Bayangan piring putih dan sendok yang disodorkan si wanita tua itu, serta adegan bagaimana si Kakek membuka mulutnya menerima suapan, terus menurus terbayang, bak keping DVD yang diputar berulang-ulang. Kontras sekali gaya sarapan pagi pengemudi Toyota Altis yang saya lihat sebelumnya. Perasaan saya campur aduk antara trenyuh, berbaur dengan rasa haru atas kemesraan mereka, tapi tetap penuh dengan tanda tanya besar akan beberapa hal yang selama ini belum terjawab. Siapa sebenarnya si Kakek itu? Apakah dia tidak sehat sehingga harus ditemani dan disuapi sang isteri? Kalau ya, kenapa dia tetap bersikeras untuk menjajakan papan cuci kayunya?

Sampai saya menuliskan "lightbreakfast" ini pikiran saya tetap penuh dengan tanda tanya besar. Dan pagi hari kemarin ketika saya melewati Pondok Indah itu kembali, saya tidak melihat mereka. Entah apa yang telah terjadi. Tetapi rangkaian pemandangan yang saya alami beberapa hari ini telah menyadarkan saya kembali akan perjuangan kedua orangtua saya (sekarang seusia dengan si Kakek dan isterinya) dalam membesarkan, membimbing dan mengarahkan saya hingga Tuhan mengijinkan saya menjalani kehidupan saya sekarang ini. Kita memang tidak bisa memilih dari orangtua mana kita dilahirkan, tetapi begaimana kita bersikap terhadap mereka sepenuhnya menjadi pilihan kita. Maka sesibuk dan sejauh apa pun tempat tinggal kita, sempatkanlah untuk tetap menghubungi orangtua kita di rumah. Sekedar sapaan, "Apa kabar Pak, sehat?" akan membuat hari-hari yang mereka lalui berbeda.

Apabila Anda kebetulan membaca "lightbreakfast" ini dan mengenal si Kakek yang saya ceritakan ini atau pernah membeli barang dagangannya, sampaikan salam saya. Siapa pun si Kakek, ia telah memberikanku pemahaman baru tentang orangtua saya.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Tulisan terbaru lightbreakfast juga bisa Anda dapatkan melalui layanan email langsung dengan cara subscribe melalui panel Google Group yang tersedia di bagian bawah halaman ini.
© 2006, 2007 Setya Rahadi. Lightbreakfast, adalah catatan perenungan pribadi dengan pesan-pesan singkat, universal dan konstruktif untuk teman minum kopi di pagi hari. Layaknya fast-food, silahkan menyantapnya di tempat atau mengunduh - take away isi blog ini sesuka Anda. Cantumkan sumber apabila Anda mengutip dan mengirimkan ke pihak lain. Kisah-kisah yang dituliskan dalam lighbreakfast diilhami oleh penggalan kisah nyata sehari-hari, dengan penyesuaian seperlunya. Kadang nama tempat atau nama orang ditulis apa adanya, tetapi dalam banyak hal, untuk kepentingan privacy, nama tempat atau nama orang tidak disebutkan secara gamblang. Nama samaran banyak dipakai demi enaknya cerita. Mohon maaf untuk kesamaan tokoh, tempat dan cerita yang mungkin terjadi.