6:00 AM
Setya Rahadi
"Alas dan Alasan adalah dua kata 'bersaudara' yang dicari orang bila kepepet."
Alas dan Alasan sama-sama dicari orang kalau sedang kepepet. Anda nggak kebagian tempat duduk dan harus duduk di lantai, maka Anda perlu alas duduk. Ada barang kotor yang hendak Anda taruh di atas meja, maka Anda juga perlu alas, supaya meja tidak kena kotorannya. Sedangkan alasan sama saja. Datang telat, lupa mengerjakan sesuatu, merusak barang tanpa sengaja, semuanya memerlukan alasan.
Tahukah Anda bila Alas dan Alasan bisa "dibuat" dan "dibuat-buat"? Karpet atau tikar adalah alas duduk resmi yang memang dibuat untuk alas di lantai. Sedangkan koran bekas bisa dibuat-buat menjadi alas duduk bila sedang kepepet. Bagaimana dengan alasan? Anda juga bisa membikin-bikin alasan. Konon manusia sekarang semakin pintar menciptakan alasan. Tujuann ya bisa negatif, bisa positif tergantung bagaimana konteks alasan itu dibuat(buat). Almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX ketika menolak untuk dicalonkan kembali menjadi Wakil Presiden menyampaikan alasan "Mata saya tidak awas lagi, untuk memegang jabatan ini!" Bagi orang awam, kedengarannya pernyataan ini biasa-biasa saja karena memang Sultan sudah relatif tua waktu itu. Namun demikian, bagi mereka yang mengerti politik, pernyataan "tidak awas" itu bisa ditafsirkan berbeda-beda. Antara lain, alasan sesungguhnya beliau menurut mereka bukan karena kesehatan matanya secara harafiah, tetapi alasan yang dibuat(buat), yang dalam bahasa sinyal politik itu akan dipahami mendalam hanya oleh mereka yang terlibat dalam permainan politik waktu itu.
Merekayasa alasan dalam satu dua kasus bolehlah, asal reasonable dan justified. Tetapi kalau merekayasa alasan menjadi sebuah profesi dan habit --selalu mencari-cari alasan untuk setiap hal yang dilakukan, maka bantuan professional diperlukan. Anda perlu konseling dan bahkan terapi.
Setiap masalah perlu pemecahan, bukan sekedar alasan. Daripada membuang-buang energi untuk merekayasa alasan, ada baiknya energi yang ada dipakai untuk menemukan solusi yang tepat.
Selamat pagi dan selamat bekerja n
9:31 PM
Setya Rahadi
"Kemana Anda melangkah tidak ditentukan oleh alas kaki (kasut) yang Anda kenakan!"
Sudah menjadi nasib Sandal Jepit. Sering ditolak menjadi alas kaki resmi, karena diangap tidak berkelas. Nggak percaya? cobalah masuk department store, mall, atau restoran tertentu dengan hanya mengenakan alas kaki yang namanya sandal jepit ini! Bakalan dihadang satpam sebelum Anda sempat masuk. Seorang Taufik Hidayat juga nggak bakalan menggunakan sandal jepit ketika bertanding di kejuaraan bulu tangkis. Apalagi tim sepakbola Liverpool!
Sampai saat ini memang sandal jepit dianggap sebagai alas kaki paling remeh. Setidaknya, di antara ribuan alas kaki dan sepatu koleksi Imelda Marcos, sandal jepit saya yakin tidak termasuk di dalamnya. Lagi pula sandal jepit ini kan tidak memenuhi standar EHSS - Environment, Health, Safety & Security (Environment: sandal jepit terlalu terbuka, sehingga menyebabkan bau kaki pemakai menjadi sumber polusi; Health: pemakai bisa masuk angin dan tertusuk benda tajam; Safety: sandal jepit tidak cocok buat atletik atau panjat tebing; Security: sandal jepit bukan alas kaki yang cocok untuk satpam, ribet kan kalau harus ngejar maling pakai sandal jepit).
Tetapi Anda jangan menggunakan alas kaki sebagai standard penilain terhadap seseorang. Saya mengenal seorang Kiai dengan "sandal jepit" bebas masuk-keluar Istana Negara, dan malah ia sangat dihormati dan disegani orang, termasuk petinggi-petinggi negara di republik ini Bandingkan dengan seorang businessman sukses yang berhasil masuk ke dunia politik dan pernah menjadi salah seorang menteri, tetapi kemudian menggunakan alas kaki berharga puluhan juta rupiahnya ke tika digelandang masuk tahanan kejaksaan untuk kasus korupsi!
Jangan heran juga kalau Anda ke Myanmar, sandal jepit dan sarung menjadi pakaian kerja sehari-hari (kecuali dari kalangan militer). Dan Anda tidak bisa menilai mereka "tidak lazim" hanya karena sandal yang mereka kenakan sehari-hari.
Ketika dunia ini mempunyai standard dan norma bikinan mengenai apa yang baik dan tidak baik untuk dipakai di kaki, seharusnya kita tetap mempunyai keyakinan bahwa langkah-langkah kita tidak lah ditentukan oleh alas kaki yang kita kenakan, tetapi jutru oleh akal-budi-pikiran yang letaknya jauh dari kaki serta tidak tampak di mata.
Jangan mempertaruhkan nilai Anda s ebagai manusia utuh hanya kepada alas kaki atau pakaian yang kita kenakan.
Selamat pagi dan selamat bekerja n
Tulisan terbaru lightbreakfast juga bisa Anda dapatkan melalui layanan email langsung dengan cara subscribe melalui panel Google Group yang tersedia di bagian bawah halaman ini.
© 2006, 2007 Setya Rahadi. Lightbreakfast, adalah catatan perenungan pribadi dengan pesan-pesan singkat, universal dan konstruktif untuk teman minum kopi di pagi hari. Layaknya fast-food, silahkan menyantapnya di tempat atau mengunduh - take away isi blog ini sesuka Anda. Cantumkan sumber apabila Anda mengutip dan mengirimkan ke pihak lain.
Kisah-kisah yang dituliskan dalam lighbreakfast diilhami oleh penggalan kisah nyata sehari-hari, dengan penyesuaian seperlunya. Kadang nama tempat atau nama orang ditulis apa adanya, tetapi dalam banyak hal, untuk kepentingan privacy, nama tempat atau nama orang tidak disebutkan secara gamblang. Nama samaran banyak dipakai demi enaknya cerita.
Mohon maaf untuk kesamaan tokoh, tempat dan cerita yang mungkin terjadi.