6:00 AM
Setya Rahadi
"Akan ada banyak hal yang tidak biasa dalam hidup. Yang diperlukan bukan lah membiasakannya, tetapi berlatih untuk bisa menghadapinya."
Ada beberapa hal yang tidak biasa saya alami pagi ini. Anak perempuan saya tumben-tumbennya sudah rapi dengan baju seragam sekolahnya ketika saya bangun. Padahal boro-boro rapi, bangun pun harus diopyak-opyak. Tumben pula petugas satpam perumahan di mana saya tinggal hari ini tidak kelihatan. Padahal, biasanya salah seorang dari mereka selalu berdiri di depan gerbang serta melambaikan tangan dengan gaya mereka yang khas. Saya merasa ada hal yang tidak biasa juga ketika saya menyadari bahwa jalan tol Serpong-Bintaro yang saya lewati pagi hari ini juga terasa lengang. Yang lebih mengherankan, petugas pintu tol Pondok Pinang pagi hari itu --dan hanya pagi hari itu sepanjang yang saya catat sampai hari ini-- melempar senyum sambil menyapa, "Pagi Pak!" sebelum menerima karcis dan pembayaran dari saya.Ada apakah hari ini gerangan? Saya jadi bertanya-tanya. Mungkinkah ini merupakan tanda-tanda, firasat atau sesuatu yang mengawali sebuah peristiwa besar? Atau, apakah saya yang terlalu sensitif? Bahwa ketidakbiasaan yang saya alami sebenarnya hal yang biasa-biasa saja? Dengan kata lain, saya lah yang tidak biasa dari biasanya. Begitu kah?Tetapi tidak juga. Karena kembali saya harus menjadi saksi kejadian yang masuk kategori di luar kebiasaan. Entah kenapa, jalanan yang membelah antara Plaza Semanggi, Universitas Atma Jaya, Rumah Sakit Jakarta dan Apartemen Aston tiba-tiba bisa menghentikan ratusan kendaraan yang lewat. Padahal waktu baru menunjukkan pukul 07.27 WIB. Kemacetan itu bahkan menyebabkan kendaraan dari arah Gatot Subroto yang masuk Plaza Semanggi dan keluar kembali di samping Universitas Atma Jaya terhenti juga. Saya lihat wajah-wajah cemas bertebaran di balik kaca sambil bergumam penuh tanda tanya. Saya bukan pembaca bibir yang baik, tetapi jelas gerakan bibir mereka rata-rata berbunyi, "Ada apa sih?", "Ngak biasanya begini ..." dan sejenisnya.Usut punya usut penyebabnya ternyata jalanan di depan Apartemen Aston sedang dicor dengan semen di salah satu sisinya. Pinter tenan! Pagi-pagi begini kok bisa-bisanya dengan sengaja melakukan pekerjaan pengecoran jalan. Alhasil, kemacetan terjadi luar biasa!Manusia Jakarta sudah terbiasa dengan kemacetan. Tetapi membiasakan untuk menjadi biasa ternyata tidaklah cukup. Terbukti sedikit kemacetan (bukan bencana besar) pagi hari ini telah membuat kepanikan yang tidak perlu. Akan ada banyak peristiwa dalam hidup di luar kebiasaan yang mungkin terjadi. Oleh sebab itu siap dan bisa menghadapi hal yang tidak biasa adalah faktor penting yang harus terus dilatih.Selamat pagi dan selamat bekerja n
8:53 AM
Setya Rahadi
"Kita semua kelak bisa menjadi 'orang tua' yang baik tetapi jarang dari kita yang bisa menjadi 'orangtua' yang baik."
Di perempatan lampu merah Pondok Indah, hari Rabu pagi, 22 Nevember 2006, pukul 6:28 WIB, Suzuki Minibus APV berwarna biru merangsek pelan di depan mobil kami. Berhenti karena lampu merah menyala. Mendadak kaca pintu samping kanan pelan terbuka dan dari balik kaca muncul plastik bekas bungkus makanan dilempar keluar oleh penumpang di dalamnya. Astaga! Secara reflek saya membunyikan klakson dua kali, memprotes tindakan penumpang APV yang membuang sampah sembarangan itu. Isteri dan anak saya pun tak kurang kagetnya. Maklum, kami semua memang termasuk orang yang tak pernah bisa rela melihat orang membuang sampah sembarangan.
Belum lagi hilang kekagetan kami, mendadak muncul sebuah tangan dari balik kaca jendela mobil itu, mengacungkan jari telunjuk tengahnya ke arah kami. Astaganaga! Kekagetan kami berlipat ganda. Saya dan isteri berpandangan dengan ekspresi muka amit-amit jabang bayi! Makhluk apakah gerangan yang ada di dalam mobil Suzuki APV itu? Kalau pun manusia, bagaimana mungkin ia bisa melakukan itu? Membuang sampah dari atas kendaraan seenaknya?Kemudian justru tega mengacungkan telunjuk jari tengahnya ke atas, ketika kami peringatkan? Waduh, sudah sedemikian parahnya sikap mental manusia Jakarta ini ...
Kami tidak bisa melihat wajah manusia-manusia di dalam kendaraan itu. Bahkan ketika kami menyalipnya. Kaca terlalu gelap untuk bisa melihat ke dalam kendaraan. Tetapi kalau melihat ukuran tanggannya, kami menduga tangan itu bukan milik orang dewasa. Jadi saya pribadi ada sedikit perasaan maklum karena yang melakukannya mungkin anak-anak. Namun demikian isteri saya bersikap berbeda. Justru karena dia masih anak-anak, etiket sepele membuang sampah harus diajarkan oleh orangtuanya dengan benar. Siapa orangtua anak itu? Orangtua macam apa yang memperbolehkan anak (at least tidak pernah melarang atau wanti-wanti kepada anak-anaknya) membuang sampah sembarangan? Apakah mereka tidak mampu beli kotak sampah untuk mobil mereka? Mereka toh bukan dari kalangan yang tidak berpendidikan? Paling tidak dari ukuran kendaraan yang dipakai ... isteri saya terus mempertanyakannya. Sebenarnya siap enggak sih mereka jadi orangtua?
Pertanyaan terakhir isteri itu yang menggelitik pemikiran saya. "Siapkah mereka menjadi orangtua?" merupakan pertanyaan sangat relevan dipertanyakan kepada pasangan-pasangan muda sekarang. Meskipun bisa diduga kebanyakan jawabannya, "Siap!" kenyataannya, dalam hal-hal sepele (seperti soal kedidisiplinan membuang sampah anak-anak kita) menunjukkan ketidaksiapan kita menjadi orangtua. Kita gagal menjadi orangtua karena tidak bisa mentransformasikan nilai-nilai etika standar yang paling universal ke anak-anak.
Oleh sebab itu, bagi pasanngan muda yang hendak menikah, saya ingatkan bahwa menjadi "orangtua" itu berbeda dengan hanya sekedar menjadi "orang tua". Kita semua akan menjadi "orang tua" baik nantinya, tetapi tidak semua dari kita bisa menjadi "orangtua" yang baik. Bukankah ketika kita menikah kebanyakan dari kita memang belum pernah punya pengalaman menjadi orangtua? Kebanyakan pasangan muda sekarang put much effort untuk hal-hal seremonial belaka dan justru lupa bahwa pernikahan dan being a parent membutuhkan tanggungjawab besar.
Selamat pagi dan selamat bekerja n
Tulisan terbaru lightbreakfast juga bisa Anda dapatkan melalui layanan email langsung dengan cara subscribe melalui panel Google Group yang tersedia di bagian bawah halaman ini.
© 2006, 2007 Setya Rahadi. Lightbreakfast, adalah catatan perenungan pribadi dengan pesan-pesan singkat, universal dan konstruktif untuk teman minum kopi di pagi hari. Layaknya fast-food, silahkan menyantapnya di tempat atau mengunduh - take away isi blog ini sesuka Anda. Cantumkan sumber apabila Anda mengutip dan mengirimkan ke pihak lain.
Kisah-kisah yang dituliskan dalam lighbreakfast diilhami oleh penggalan kisah nyata sehari-hari, dengan penyesuaian seperlunya. Kadang nama tempat atau nama orang ditulis apa adanya, tetapi dalam banyak hal, untuk kepentingan privacy, nama tempat atau nama orang tidak disebutkan secara gamblang. Nama samaran banyak dipakai demi enaknya cerita.
Mohon maaf untuk kesamaan tokoh, tempat dan cerita yang mungkin terjadi.