Google Groups Untuk berlangganan 'lightbreakfast', silahkan masukkan alamat email Anda dan klik tombol 'Berlangganan' sekarang!
Email:
Browse Archives at groups.google.com

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Guyon

"Tertawa adalah hak bebas setiap orang, tetapi tidak semua hal bebas ditertawakan."

Beberapa hari setelah pesawat Adam Air dinyatakan hilang dan simpang siur pemberitaan mengenai diketemukannya pesawat itu, beberapa SMS dengan isi hampir sama datang ke handphone saya. Beberapa diataranya berbunyi, "Cepetan nonton … (sebuah stasiun televisi), adam air sdh ditemukan: 88 org meninggal, 2 org kritis, 1 org kena tipu baca sms ini ;-)" .

Alamak! Tega-teganya membuat joke untuk sebuah peristiwa yang kita sama-sama tahu tidak layak tayang dijadikan guyonan. Terus terang saya berkeberatan dengan sms ini, meskipun saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia yang masih memiliki empati terhadap keluarga korban. Coba Anda bayangkan bagaimana apabila sms berantai ini tersebar dan isteri, suami atau pihak keluarga yang menjadi korban pesawat itu menerima pesan pendek ini. Oleh sebab itu saya menggunakan hak jawab saya dengan mengirimkan balasan ke si pengirim, memperingatkan untuk tidak melakukan itu.

Kita memang memahami budaya guyon, plesetan sudah menjadi bagian hidup dari sebuah komunitas sosial. Ia menjadi sebuah pelengkap interaksi, ia menjadi pencair ketegangan, bahkan joke (lawak) menjadi sebuah industri yang luar biasa menjanjikan. Jaman dulu ada Srimulat, sekarang ada Extravaganza dan bahkan acara talkshow pun tak lepas dari invasi guyon ini, tengoklah acara News.Com atau Empat Mata-nya Thukul Arwana yang konon kebanjiran iklan karena rating-nya melejit itu.

Tetapi, apakah atas nama guyon, atas nama canda, atas nama lelucon, kita bebas melakukan sesuatu? Kita seolah-olah punya "kekebalan diplomatik" untuk lelucon yang kita lakukan, berlindung di balik disclaimer, "Hanya bercanda kok!" , "Just kidding!" , "Tenang Men, serius amat!" dan seterusya. Dengan kata-kata sakti itu seolah candaan itu menjadi sah, tanpa menghiraukan perasaan korban atau bahkan "kerugian" lain yang diderita.

Segala sesuatu ada batasnya, dan yang harus membuat batas itu adalah kita sendiri! Kalau kita tidak membuat batas sendiri, pada suatu saat nanti Anda akan diberi "batas" oleh orang lain. Entah itu berupa teguran, atau Anda mengalami peristiwa tragis. Dari sebuah koran yang saya baca di pesawat, seorang pekerja imigran di Singapore dinyatakan bersalah dan masuk penjara karena telah menngakibatkan kematian rekannya. Kejadiannya sepele, mereka bercanda ketika berenang di pantai, ngerjain salah satu rekannya yang tidak bisa berenang sehingga harus berakhir dengan kematian si korban. Di Yogya beberapa tahun lalu juga terjadi peristiwa tragis ketika dengan bercanda seorang montir bengkel mengarahkan selang kompresor bertekanan tinggi ke pantat rekannya yang kebetulan celananya berlubang. Karena terkejut, si korban secara reflek berdiri mengakibatkan ujung selang terjepit di dubur dan angin bertekanan tinggi itu masuk ke usus. Ia meninggal seketika. Belum lama juga, di Bandara Singapura maskapai penerbangan SilkAir juga harus mengeluarkan seorang pria Australia dari pesawat (hanya) karena ia bercanda menyebutkan kata "bom" beberapa menit sebelum take-off ke Indonesia. "Where do you keep the bomb?" katanya kepada flight-attendant. Paulin nama pria itu kemudian didenda $6,420 sesuai peraturan anti-teroris internasional dalam penerbangan.

Joke membuat hidup ini segar, guyonan membuat hubungan kita cair, bercanda adalah variasi dalam melepas ketegangan. Bercandalah, tetapi Anda harus tahu batas-batasnya.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Ego

"Pada dasarnya semua masalah bisa diselesaikan. Tetapi seringkali ego kita justru membuatnya menjadi lebih buruk."

Sebuah kendaraan meluncur di keramaian jalan di selatan Jakarta. Kendaraan baru merek terkenal yang masih berusia 2 bulan itu dikemudikan oleh seorang gadis remaja usia SMA. Di samping kiri duduk Sang Ayah dan dibelakang duduk Ibu dan adik lelakinya, Anto yang yang juga sudah menginjak remaja. Rupanya si Remaja putri --sebutlah Upik-- barusan mendapatkan SIM sehingga siang itu ia diijinkan menyetir.

Ketika mereka melewati sebuah lampu merah, tanpa disangka sebuah Angkot nyelonong dengan kecepatan tinggi dari arah kanan. Tabrakan tak terelakkan meskipun dua kendaraan tersebut berdecit tanda rem diinjak mendadak dengan kekuatan penuh. Kepala Upik membentur kaca samping kanan menyebabkan hancurnya kaca mobil baru itu. Ayah Upik naik pintam dan segera meloncat turun menghampiri sopir Angkot yang ugal-ugalan itu. Sudah bisa diduga, mereka terlibat adu mulut, saling gertak karena masing-masing merasa benar. Pertengkaran mereka menyebabkan lalu lintas terhenti dan suara klakson mulai ramai terdengar.

Sementara itu, karena benturan di kepala, Upik jatuh pingsan. Sang Ibu berteriak-teriak kepada suaminya berusaha memberitahu kalau si Upik pingsan. Tetapi Sang Suami terus beradu mulut dengan sopir Angkot itu. Baru berhenti ketika Anto berlari menyusul Sang Ayah dan menarik tangannya. Sempat agak lama, baru setelah Si Ayah berhasil merebut SIM Sopir Angkot itu mereka kembali ke mobil. Sang Ayah kaget melihat si Upik sudah tergeletak pingsan. Buru-buru ia mengangkatnya dan memindahkan kebelakang. Untung, pintu depan masih bisa dibuka sehingga mereka bisa membawa Upik ke Rumah Sakit terdekat tanpa harus mencari kendaraan lain. Perjalanan ke Rumah Sakit agak sulit karena lalu lintas di seputar perempatan itu terlanjur macet.

Upik harus menjalani perawatan serius karena pendarahan di otaknya sempat membeku. Timbul penyesalan Si Ayah karena tidak membawa lebih cepat Upik ke Rumah Sakit. Padahal itu bisa ia lakukan. Tetapi pada saat kejadian, justru yang lebih ia perhatikan adalah kerusakan mobilnya. Ia mati-matian "berjuang" agar si sopir Angkot bertangngungjawab memperbaiki kendaraannya. Ia sadar bahwa itu semua akhirya tak berarti apa-apa. Terbukti sampai beberapa waktu kemudian Sopir Angkot itu tidak nongol, meski SIM sudah ia pegang. Terlebih, sebenarnya kendaraan itu sudah diasuransikan. "Apa sebenarnya yang saya cari? Bukankah keadaaan Upik justru lebih penting daripada kerusakan mobilnya?"

Belajar dari apa yang dialami ayah Upik, semua orang bisa menghadapi peristiwa sama. Alternatif keputusan yang bisa diambil juga sama. Waktu yang disediakan untuk mengambil keputusan pun sebenarnya juga sama. Yang membedakan adalah seberapa besar dan sensitif ego-nya. Karena pada dasarnya semua masalah bisa diselesaikan, tetapi seringkali ego kuta justru membuatnya lebih buruk.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Tulisan terbaru lightbreakfast juga bisa Anda dapatkan melalui layanan email langsung dengan cara subscribe melalui panel Google Group yang tersedia di bagian bawah halaman ini.
© 2006, 2007 Setya Rahadi. Lightbreakfast, adalah catatan perenungan pribadi dengan pesan-pesan singkat, universal dan konstruktif untuk teman minum kopi di pagi hari. Layaknya fast-food, silahkan menyantapnya di tempat atau mengunduh - take away isi blog ini sesuka Anda. Cantumkan sumber apabila Anda mengutip dan mengirimkan ke pihak lain. Kisah-kisah yang dituliskan dalam lighbreakfast diilhami oleh penggalan kisah nyata sehari-hari, dengan penyesuaian seperlunya. Kadang nama tempat atau nama orang ditulis apa adanya, tetapi dalam banyak hal, untuk kepentingan privacy, nama tempat atau nama orang tidak disebutkan secara gamblang. Nama samaran banyak dipakai demi enaknya cerita. Mohon maaf untuk kesamaan tokoh, tempat dan cerita yang mungkin terjadi.