Google Groups Untuk berlangganan 'lightbreakfast', silahkan masukkan alamat email Anda dan klik tombol 'Berlangganan' sekarang!
Email:
Browse Archives at groups.google.com

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pikiran

"Seperti air yang selalu mencari jalan untuk dirinya sendiri, apa yang selalu kita pikirkan akan menjadi sumber energi yang mengarahkan tindakan-tindakan kita."

"Apakah ada perasaan putus asa sewaktu terapung di laut sendirian? Misalnya, berpikir 'habislah sudah hidupku' …?" tanya wartawan MetroTV kepada Ari Afrizal, 21, korban gelombang Tsunami, selama 15 hari 14 malam terapung-apung di lautan lepas. "Tidak!" jawabnya tegas, "Yang terpikir saya waktu itu, saya mau hidup, saya tidak mau mati!"

Ternyata tekad serta apa yang dipikirkan Ari menjadi kenyataan. Pemuda yang berasal dari desa Kabong, Aceh Jaya, berhasil diselamatkan kapal Al-Yamamah yang lewat di lokasi 320 kilometer dari pantai barat Sumatera, 15 hari setelah bencana Tsunami Aceh 26 Desember 2004. Selama terapung di lautan Ari melawan terik matahari, dinginnya hujan serta pekatnya malam dengan hanya memakan buah kelapa serta bantuan kayu dan sampan yang hanyut bersama-sama ke laut. Tekadnya untuk hidup telah membuatnya bertahan selama 15 hari sebelum akhirnya ditolong awak kapal Al-Yamamah.

Dalam kehidupan sehari-hari, perasaan ragu, takut atau pesimis, seringkali menghantui pikiran kita. Padahal, pikiran positif, semangat serta tekad merupakan modal awal yang barangkali 50% akan menjamin keberhasilan pekerjaan dan tugas-tugas kita. Pernahkah kita sadari bahwa apa yang ki ta pikirkan sesungguhnya merupakan sumber kekuatan yang luar biasa "dahsyat"?

Dalam khasanah psikologis ini disebut sebagai "Self-fullfiling Phropecy" atau "Pygmalion Effect". Adalah Robert Merton, seorang profesor sosiologi di Universitas Columbia yang pada tahun 1957 mengembangkan konsep ini. Dalam kajiannya yang terkenal dengan sebutan "Social Theory and Social Structure", Merton mengatakan (dengan bahasa sederhana) ketika sebuah ekspetasi sudah dibuat, bahkan ketika itu tidak akurat, kita akan cenderung untuk bertindak melakukan sesuatu yang konsisten dengan ekspetasi itu. Dan herannya, kebanyakan ekspetasi itu akan membuahkan hasil nyata, layaknya sebuah proses mejik. Bukankah Ari Afrizal, korban Tsunami yang terapung di lautan lepas selama 15 hari itu telah membuktikannya? Bahwa apa yang dipikirkannya tidak mau mati di tengah-tengah laut membuat dirin ya bertahan dan bahkan diselamatkan oleh kapal yang lewat!

Oleh sebab itu, jangan bermain-main dengan pikiran Anda sendiri, Anda harus mengarahkan pikiran secara positif dan sitematis, karena pikiran Anda akan membawa Anda ke mana akan menuju. Seorang tokoh pernah mengatakan, "All things, whatever you ask, praying, believe that you shall receive them, and it will be to you."

Selamat pagi, selamat bekerja n

Sempat

"For the most part, we are too busy doing just about everything, that means just about nothing, to just about nobody, just about anywhere ... " - Mathew Kelly, The Rythm of Life

Kata "sempat" dan "sempit" hanya dibedakan oleh satu huruf "a" dan huruf "i", tetapi bukan berarti kedua kata itu mempunyai arti yang berdekatan. Kalau pun mau di cocok-cocokan, dua kata itu mempunyai nuansa situasi yang mirip, yaitu situasi keterbatasan. Tengoklah dua pernyataan ini (1) "Waduh, saya nggak sempat makan siang!" ; atau (2) "Ruangan ini saya rasa terlalu sempit ya?!" Dua kalimat itu menunjukkan sebuah kondisi keterbatasan dimana dalam contoh pertama menunjukkan keterbatasan waktu, dan yang kedua menunjukkan keterbatasan tempat.

Kata "sempat" dan "sempit" menjadi kata yang semakin akrab di kalangan manusia moderen. Tidak sempat, menunggu kesempatan, waktu saya sempit, ukuran kamar terlalu sempit, bahkan uangkapan 'mengambil kesempatan dalam kesempitan' menjadi lebih sering kita dengar. Manusia moderen menjadi sangat sibuk, sehingga kesempatan baik menjadi barang langka, di pihak lain ruang gerak mereka jauh menjadi lebih sempit. Kutipan yang saya ambil dari buku The Rythm of Life di atas menggelitik kesadaran kita, bahwa dalam banyak hal kita menjadi terlalu sibuk dengan segala sesuatu, padahal semuanya itu nothing! Kita bilang tidak sempat makan, padahal karena memang kita terlalu rebyek menggunakan banyak waktu justru untuk memasak dan menyiapkannya, atau terlalu sibuk memilih restoran dan dengan siapa kita mau makan. Kita tidak sempat berolah raga, bukan karena tidak ada waktu, tetapi urusan mendaftarkan diri ke Fitness Centre atau klub olah raga telah menyita banyak waktu kita. Betapa kita ini memang sibuk dengan sedala sesuatu yang sebenarnya justru sekedar akseoris perilaku dan gaya hidup!

Hari ini, cobalah Anda untuk memfokuskan diri terhadap apa yang akan menjadi maksud dan tujuan kita sebenarnya, dan tidak menggunakan banyak waktu Anda justru hanya untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya bukan kegiatan utama.

Selamat pagi, selamat bekerja g

Tulisan terbaru lightbreakfast juga bisa Anda dapatkan melalui layanan email langsung dengan cara subscribe melalui panel Google Group yang tersedia di bagian bawah halaman ini.
© 2006, 2007 Setya Rahadi. Lightbreakfast, adalah catatan perenungan pribadi dengan pesan-pesan singkat, universal dan konstruktif untuk teman minum kopi di pagi hari. Layaknya fast-food, silahkan menyantapnya di tempat atau mengunduh - take away isi blog ini sesuka Anda. Cantumkan sumber apabila Anda mengutip dan mengirimkan ke pihak lain. Kisah-kisah yang dituliskan dalam lighbreakfast diilhami oleh penggalan kisah nyata sehari-hari, dengan penyesuaian seperlunya. Kadang nama tempat atau nama orang ditulis apa adanya, tetapi dalam banyak hal, untuk kepentingan privacy, nama tempat atau nama orang tidak disebutkan secara gamblang. Nama samaran banyak dipakai demi enaknya cerita. Mohon maaf untuk kesamaan tokoh, tempat dan cerita yang mungkin terjadi.