Google Groups Untuk berlangganan 'lightbreakfast', silahkan masukkan alamat email Anda dan klik tombol 'Berlangganan' sekarang!
Email:
Browse Archives at groups.google.com

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Manipulasi

"Tidak batas untuk cita-cita, harapan dan keinginan. Satu-satunya batas adalah ketika Anda sudah kehilanngan realitas karenanya."

Dalam sebuah seminar karir yang diselenggarakan mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Semarang, salah satu pembicara yang diundang mengatakan bahwa untuk berhasil dalam melamar pekerjaan, "Pencari kerja harus pintar-pintar memanipulasi resume atau cv!" Pernyataan ini dengan polos ditanggapi dengan sikap tanda tanya oleh sebagian peserta. Memanipulasi resume?

Dalam kesempatan seminar yang berbeda, penggunaan kata "manipulasi" juga sempat membuat peserta bingung. Seorang motivator yang berbicara seputar bagaimana menjadi pribadi efektif, menyarankan kepada para peserta untuk secara sistematis memanipulasi perilakunya. "Anda tidak akan menjadi pribadi yang sukses secara sosial apabila Anda malas memanipulasi kecenderungan dasar dari personality Anda!'

Kata "manipulasi" memang lebih banyak dihayati dan dimaknai sebagi sebuah tindakan negatif. Padahal, kata manipulasi yang berasal dari kata dalam bahasa Inggris, to manipulate berarti menggerakkan, memainkan, menggunakan, menyelewengkan, mendalangi. Yang dimaksud oleh kedua pembicara seminar tersebut di atas tentu bukan berarti manipulasi secara negatif. Memanupulasi resume berarti memberikan sentuhan-sentuhan tertentu kepada bentuk dan penyajian fakta tentang kita dalam resume yang kita buat. Bukankah setiap posisi atau pekerjaan membutuhkan kualifikasi yang berbeda? "Anda harus menyajikan fakta mengenai diri Anda sedemikian rupa, sehingga hal-hal yang menjadi requirement dari posisi yang Anda lamar, bisa ditonjolkan!" kata pembicara itu. Demikian juga yang dimaksud pembicara kedua tentang memanipulasi kecenderungan dasar, tak lebih merupakan ajakan untuk pandai-pandai membawakan diri dan menyesuaikan dengan lingkungan. Keterampilan ini memang sangat penting untuk menjadi pribadi yang efektif. Bukankah Anda tidak bisa serta merta ber ha-ha hi-hi di depan kerumunan orang yang baru Anda kenal, meskipun Anda termasuk orang yang mempunyai kecenderungan dasar extrovert?

Akan halnya, kamera yang diluncurkan oleh Hewlett-Packard Company di Amerika beberapa waktu lalu sempat membuat heboh dan mengusik ketenangan banyak orang. Kenapa? Perusahaan itu telah mengeluarkan seri kamera digital (HP Photosmart R967, http://www.hp.com/) dengan kemampuan built-in slimming. Dengan kamera itu Anda bisa membuat suami atau isteri Anda yang berbobot 80 kilogram menjadi pria atau wanita "baru" dengan bobot separohnya. Rupanya kamera itu telah dilengkapi dengan filter software sedemikian rupa sehingga bisa menghasilkan gambar seseorang dengan tubuh bongsor menjadi langsing bak peragawan dan peragawati! Sesuatu yang semula hanya bisa dilakukan dengan proses manipulasi di studio dengan photoshop atau software sejenisnya, sekarang langsung dilakukan di tempat dengan hanya membutuhkan satu tombol!

Gejala apa ini? Budaya manipulatif atau hanya sekedar guyon satire? Bisa jadi dua-duanya. Manusia memang cenderung manipulatif. Manipulasi positif seperti dua contoh di atas atau manipulasi negatif (dari soal nilai sampai manipulasi proyek) yang memang sudah menjadi bagian hidup kita sehari-hari. Bisa juga apa yang ditawarkan Hewlett-Packard itu kita tanggapi dan maknai sebagai sebuah sindiran getir terhadap kita semua umat manusia. Begitu terobsesi akan sesuatu yang ideal, wah, tetapi tidak bisa mencapainya. Yah, apa boleh buat kalau ada yang sebagian orang puas hanya dengan melihat foto diri yang super langsing, padahal aslinya sedemikian bongsor. Barangkali sebentar lagi ada software yang mampu memasukkan gambar kita ke dalam video sehingga seolah-olah kita menjadi tokoh Superman dan "memproduksinya" dalam sebuah keping DVD. Jika demikian, akan banyak orang yang kehilangan realitasnya.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

(P)ujian

"Pujian perlu untuk membangun motivasi, tetapi pujian tidak mengajarkan sesuatu yang baru kepada kita."

Siapa yang tidak senang mendapatkan pujian atau penghargaan? Semua orang tentu suka dipuji atau merasa dihargai. Sekecil apa pun itu. Dalam teori psikologi positif, pujian dan penghargaan sangat diperlukan dalam membangun karakter positif seseorang dan lingkungannya. Pertama, pujian atau penghargaan akan sangat membantu dalam membangun kepercayaan diri seseorang. Jika Anda mempunyai anak kecil, cobalah biasakan untuk memberikan kata-kata positif berupa pujian atau sikap penghargaan terhadap suatu hal yang sudah mereka lakukan. Dorongan positif seperti itu akan memberikan penguatan serta pembentukan "pola permanen" dalam otak anak, sehingga kecenderungan positif akan muncul; yang seterusnya tentu akan membentuk perilaku positif anak pula. Bukankah lumba-lumba di Ancol yang begitu "cerdas" mengikuti perintah pelatih, sebenarnya merupakan hasil dari pembiasaan dalam memberikan penghargaan ini?

Kedua, pujian dan penghargaan yang Anda berikan kepada orang lain secara spontan dan "genuine" akan memberikan aura positif bagi lingkungan Anda. Kata-kata "Bagus!", "Wow, terimakasih!" akan sangat berarti bagi anak buah dan seluruh tim kerja Anda. Saya menyadari bahwa dalam kultur budaya kita, pemberian apresiasi ini masih "malu-malu" dilakukan. Berbeda misalnya bila Anda lihat dari teman-teman kita dari budaya barat umumnya, mereka lebih ekspresif dalammemberikan appresiasi. Misalnya lontaran kata-kata "Awesome!", "Perfect!", "Wonderful!", "Good job!" sering kita dengar.

Tetapi Anda juga perlu hati-hati dalam memaknai sebuah pujian. Dalam kata "pujian" terdapat kata "ujian" (dengan menghilangkan huruf "P" di depan). Artinya, bagi seseorang pujian justru bisa menjadi sebuah ujian baginya. Bagi yang secara mental tidak siap, pujian yang berlebih akan justru menenggelamkannya ke dalam bayang-bayang kesuksesan semu. Karena sesungguhnya, pujian yang kita terima adalah untuk sesuatu hal yang sudah terjadi di waktu yang sudah lewat. Ia tidak mengajarkan sesuatu yang baru untuk kita. Bukankah "past successes do not guarantee future successes"?

Oleh sebab itu, berhentilah menikmati pujian, jika pujian itu justru akan menenggelamkan Anda ke sukses masa lalu. Selain pujian, ada baiknya kita juga menerima (dan memberi) menerima kritik serta saran yang justru akan membangun kita, mendorong kita untuk belajar sesuatu yang baru. Jadi jangan takut menerima kritik. Itu adalah hadiah terbaik untuk perkembangan diri kita, selain pujian sewajarnya yang kita terima.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Tulisan terbaru lightbreakfast juga bisa Anda dapatkan melalui layanan email langsung dengan cara subscribe melalui panel Google Group yang tersedia di bagian bawah halaman ini.
© 2006, 2007 Setya Rahadi. Lightbreakfast, adalah catatan perenungan pribadi dengan pesan-pesan singkat, universal dan konstruktif untuk teman minum kopi di pagi hari. Layaknya fast-food, silahkan menyantapnya di tempat atau mengunduh - take away isi blog ini sesuka Anda. Cantumkan sumber apabila Anda mengutip dan mengirimkan ke pihak lain. Kisah-kisah yang dituliskan dalam lighbreakfast diilhami oleh penggalan kisah nyata sehari-hari, dengan penyesuaian seperlunya. Kadang nama tempat atau nama orang ditulis apa adanya, tetapi dalam banyak hal, untuk kepentingan privacy, nama tempat atau nama orang tidak disebutkan secara gamblang. Nama samaran banyak dipakai demi enaknya cerita. Mohon maaf untuk kesamaan tokoh, tempat dan cerita yang mungkin terjadi.