6:00 AM
Setya Rahadi
"Penjajahan terbesar dalam hidup kita adalah berupa kebohongan terhadap diri sendiri. Hanya roh kebenaran yang akan memerdekakan kita."
Seorang pegawai sebuah hypermarket menceritakan suka-dukanya sebagai customer services di perusahaan itu. Terutama bagaimana menghadapi para pelanggan. "Orang itu memang macam-macam!" katanya.
Memang. Kita barangkali tidak akan pernah menyangka atau berharap tetangga dan saudara kita berperilaku aneh-aneh dalam keseharian mereka, tetapi ketika mereka dihadapkan / ditantang soal kebutuhan hidup atau harga diri, maka saya yakin perilaku "mengejutkan" akan muncul. Bukankah karakter dasar seseorang akan mendorong perilaku yang berbeda ketika mereka sedang dalam pressure atau tersentuh ego-nya?
Seorang ibu misalnya, tiba-tiba meledak luar biasa marahnya ketika tahu barang yang ia beli tidak ada lagi di stock kecuali yang ada di display. "Nggak usah jualan kalau nggak ada barangnya!" katanya. Kenapa sih harus sampai marah sebegitu heboh? Atau, seorang ibu lainnya yang juga mencak-mencak gara-gara merasa dikubuli oleh kalimat promosi "BELI SATU DAPAT DUA" yang dipasang di koran, promotion catalog dan poster di sepanjang gerai. "#%$#* !! Lain kali tulis yang benar. Beli satu bonus satu! Kalau bilang beli satu dapat dua, ya harus dikasih tiga dong!" katanya sengit. Belum lagi pelanggan yang sangat super cermat terhadap perbedaan harga antara yang ditempel di display dengan yang tertera di struk pembelanjaan. Bahkan ada juga pembeli yang hobby-nya menukar-nukar barang yang sudah dibeli dengan alasan yang dicari-cari.
Orang bisa melakukan sesuatu yang "aneh-aneh" --paling tidak menurut norma umum yang berlaku-- lebih dikarenakan rasa kekawatiran dan ketakutannya sendiri. Sayangnya, ketakutan terhadap apa, kadang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan. Untuk memberikan kenyamanan mereka mengkompensasinya dengan perwujudan perilaku mereka yang sebenarnya merupakan penipuan besar terhadap diri mereka sendiri. Mereka --karena kekuatiran dan ketakutannya-- tidak bisa bersikapapa adanya. Mereka membohongi diri sendiri dengan berbagai macam bentuk perilakunya.
Kita semua sedang mengalami penjajahan terbesar dalam hidup. Hanya roh kebenaran yang dapat membebaskan kita. Seperti pasukan perdamaian PBB, undang roh kebenaran itu masuk ke dalam hati kita, dan biarkan ia bekerja. Maka kita akan menjadi manusia merdeka.
Dirgahayu Indonesia. Merdeka! n
6:00 AM
Setya Rahadi
"Seperti seorang penari di depan ribuan penonton, melakukan yang terbaik bukanlah sebuah pilihan, tetapi keharusan."
Seorang ibu mengeluh karena anaknya yang baru kelas 3 SD bermental minimalis. "Itu anak emang! Nggak ngerti saya harus bagaimana ..." keluhnya kepada ibu yang lain.
"Kasih dong rewards kalau berprestasi." ibu yang lain menyahut.
"Kurang apa sih dia?! Mainan juga nggak kurang, jalan-jalan juga sering!"
"Kurang ajar sih enyak-nya ..." sahut ibu yang lain disambut tawa riuh.
Tidak hanya anak-anak, manusia dewasa pun banyak yang bersikap minimalis. Nyaris tidak ada gairah untuk mencapai sesuatu yang lebih. Boro-boro lebih, karena untuk mencapai hal yang sewajarnya saja nggak ada semangat. "Ngapain sih susah-susah, gini aja oke kok. Orang lain nanti yang malah yang dapet enaknya." begitu barangkali alasan meraka.
Padahal, kata Purnawan EA, seorang pembicara yang sudah puluhan tahun menggeluti bidang hypnotherapy dan mental game, sikap yang demikian itu justru akan berdampak negatif terhadap dirinnya sendiri. Bukan orang lain atau siapa pun yang berhubungan dengannya. Kita semua ini ibarat penari yang tampil di atas panggung dengan ribuan penonton. Menari dengan baik adalah sebuah keharusan, bukan sekedar pilihan. Karena kalau kita tampil jelek, maka yang akan mendapatkan cemoohan adalah kita sendiri, bukan panggungnya, bukan MC-nya.
Nah, betapa pun Anda merasa lelah, jenuh, memendam perasaan kecewa yang mendalam untuk "panggung" pekerjaan, role and responsibility yang Anda pegang saat ini, ingatlah bagaimana pun Anda sedang berada di atas panggung dengan ribuan penonton di depan mata. "Menarilah" dengan sebaik-baiknya.
Selamat pagi dan selamat bekerja n
Tulisan terbaru lightbreakfast juga bisa Anda dapatkan melalui layanan email langsung dengan cara subscribe melalui panel Google Group yang tersedia di bagian bawah halaman ini.
© 2006, 2007 Setya Rahadi. Lightbreakfast, adalah catatan perenungan pribadi dengan pesan-pesan singkat, universal dan konstruktif untuk teman minum kopi di pagi hari. Layaknya fast-food, silahkan menyantapnya di tempat atau mengunduh - take away isi blog ini sesuka Anda. Cantumkan sumber apabila Anda mengutip dan mengirimkan ke pihak lain.
Kisah-kisah yang dituliskan dalam lighbreakfast diilhami oleh penggalan kisah nyata sehari-hari, dengan penyesuaian seperlunya. Kadang nama tempat atau nama orang ditulis apa adanya, tetapi dalam banyak hal, untuk kepentingan privacy, nama tempat atau nama orang tidak disebutkan secara gamblang. Nama samaran banyak dipakai demi enaknya cerita.
Mohon maaf untuk kesamaan tokoh, tempat dan cerita yang mungkin terjadi.