Google Groups Untuk berlangganan 'lightbreakfast', silahkan masukkan alamat email Anda dan klik tombol 'Berlangganan' sekarang!
Email:
Browse Archives at groups.google.com

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kepala

"Seperti kata 'Head' dan 'Lead' dibedakan satu karakter awalnya, untuk bisa memimpin (to lead) juga dibutuhkan 'karakter' awal yang berbeda daripada sekedar mengepalai (to head)."

Di tengah Pasar Benhil ada 'foodcourts', yang antara lain menjual masakan Padang. Ketika saya berkantor di daerah itu beberapa tahun lalu, salah satu menu favorit saya adalah Gulai Kepala Ikan. Sampai sekarang saya masih sering terngiang-ngiang cita-rasanya. Mmm, sedap. Biasanya saya kesana kalau memang punya waktu longgar, tidak ada meeting atau agenda lain selepas makan siang, sehingga saya bisa santai, penuh kesabaran dan ketelitian menikmati kepala ikan itu. Sudut demi sudut.

Entah kenapa makan kepala ikan membawa sensasi tersendiri bagi saya. Termasuk pecel lele. Yang saya sukai adalah ukuran lele yang tidak terlalu besar dan digoreng kering. Kepalanya akan terasa chrispy dan gurih di langit-langit mulut. Apalagi kalau sambelnya cocok.

Ayah saya juga penggemar kepala. Segala jenis kepala. Mulai dari kepala ayam sampai kepala kambing. Yang saya ingat, bila ibu menggoreng ayam, ayah sering mendorong kami untuk makan kepalanya. "Jupuken endhase, cik ben dadi pemimpin!" kata beliau meyakinkan. Ambil dan makan kepalanya supaya jadi pemimpin, begitu kira-kira. Entah ada hubungannya dengan kegemaran beliau makan kepala atau tidak, ayah saya memang mengakhiri karir profesionalnya sebagai kepala inspeksi guru di sebuah kabupaten di Yogyakarta.

Bicara soal kepala dalam budaya Jawa, berarti bicara soal status sosial. Setidaknya yang saya pahami selama ini. Menjadi kepala, menduduki jabatan pangreh praja, berarti menjadi 'priyayi' sebuah sebutan kelompok masyarakat berkelas dalam budaya Jawa. "Gedhe dadi priyayi!" memang menjadi kudangan (timangan) umum orangtua kepada anak-anaknya. Saya ingat, apabila kami berkunjung ke leluhur, simbah, eyang, buyut di hari Lebaran selalu kata-kata harapan "Dadi priyayi ya Le!", jadilah priyayi begitu kurang lebih, tak henti-hentinya kami terima.

Tetapi pemaknaan saya terhadap "menjadi priyayi", menjadi kepala, menjadi pejabat, sekarang ini berbeda dengan apa yang saya pahami semasa saya kecil. Menjadi "priyayi" menjadi pejabat, bukanlah keistimewaan bagi saya, karena semua orang ternyata bisa menjadi pejabat, bisa menjadi kepala, bisa menjadi "priyayi". Tetapi tidak semua pejabat itu sesungguhnya bisa menjadi pemimpin (leader). Ada karakter khusus yang diperlukan bagi seseorang untuk bisa memimpin, seperti kata Lead (memimpin) dalam Bahasa Inggris yang mempunyai karakter awal yang sangat berbeda dengan kata Head (mengepalai). Nah, menduduki jabatan tertentu sah-sah saja, tetapi yang lebih penting adalah: apakah kita sudah menjadi seorang pemimpin (yang baik)? merupakan pertanyaan reflektif yang justru mendasar dan perlu kita selalu ingat.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Guyon

"Tertawa adalah hak bebas setiap orang, tetapi tidak semua hal bebas ditertawakan."

Beberapa hari setelah pesawat Adam Air dinyatakan hilang dan simpang siur pemberitaan mengenai diketemukannya pesawat itu, beberapa SMS dengan isi hampir sama datang ke handphone saya. Beberapa diataranya berbunyi, "Cepetan nonton … (sebuah stasiun televisi), adam air sdh ditemukan: 88 org meninggal, 2 org kritis, 1 org kena tipu baca sms ini ;-)" .

Alamak! Tega-teganya membuat joke untuk sebuah peristiwa yang kita sama-sama tahu tidak layak tayang dijadikan guyonan. Terus terang saya berkeberatan dengan sms ini, meskipun saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia yang masih memiliki empati terhadap keluarga korban. Coba Anda bayangkan bagaimana apabila sms berantai ini tersebar dan isteri, suami atau pihak keluarga yang menjadi korban pesawat itu menerima pesan pendek ini. Oleh sebab itu saya menggunakan hak jawab saya dengan mengirimkan balasan ke si pengirim, memperingatkan untuk tidak melakukan itu.

Kita memang memahami budaya guyon, plesetan sudah menjadi bagian hidup dari sebuah komunitas sosial. Ia menjadi sebuah pelengkap interaksi, ia menjadi pencair ketegangan, bahkan joke (lawak) menjadi sebuah industri yang luar biasa menjanjikan. Jaman dulu ada Srimulat, sekarang ada Extravaganza dan bahkan acara talkshow pun tak lepas dari invasi guyon ini, tengoklah acara News.Com atau Empat Mata-nya Thukul Arwana yang konon kebanjiran iklan karena rating-nya melejit itu.

Tetapi, apakah atas nama guyon, atas nama canda, atas nama lelucon, kita bebas melakukan sesuatu? Kita seolah-olah punya "kekebalan diplomatik" untuk lelucon yang kita lakukan, berlindung di balik disclaimer, "Hanya bercanda kok!" , "Just kidding!" , "Tenang Men, serius amat!" dan seterusya. Dengan kata-kata sakti itu seolah candaan itu menjadi sah, tanpa menghiraukan perasaan korban atau bahkan "kerugian" lain yang diderita.

Segala sesuatu ada batasnya, dan yang harus membuat batas itu adalah kita sendiri! Kalau kita tidak membuat batas sendiri, pada suatu saat nanti Anda akan diberi "batas" oleh orang lain. Entah itu berupa teguran, atau Anda mengalami peristiwa tragis. Dari sebuah koran yang saya baca di pesawat, seorang pekerja imigran di Singapore dinyatakan bersalah dan masuk penjara karena telah menngakibatkan kematian rekannya. Kejadiannya sepele, mereka bercanda ketika berenang di pantai, ngerjain salah satu rekannya yang tidak bisa berenang sehingga harus berakhir dengan kematian si korban. Di Yogya beberapa tahun lalu juga terjadi peristiwa tragis ketika dengan bercanda seorang montir bengkel mengarahkan selang kompresor bertekanan tinggi ke pantat rekannya yang kebetulan celananya berlubang. Karena terkejut, si korban secara reflek berdiri mengakibatkan ujung selang terjepit di dubur dan angin bertekanan tinggi itu masuk ke usus. Ia meninggal seketika. Belum lama juga, di Bandara Singapura maskapai penerbangan SilkAir juga harus mengeluarkan seorang pria Australia dari pesawat (hanya) karena ia bercanda menyebutkan kata "bom" beberapa menit sebelum take-off ke Indonesia. "Where do you keep the bomb?" katanya kepada flight-attendant. Paulin nama pria itu kemudian didenda $6,420 sesuai peraturan anti-teroris internasional dalam penerbangan.

Joke membuat hidup ini segar, guyonan membuat hubungan kita cair, bercanda adalah variasi dalam melepas ketegangan. Bercandalah, tetapi Anda harus tahu batas-batasnya.

Selamat pagi dan selamat bekerja n

Tulisan terbaru lightbreakfast juga bisa Anda dapatkan melalui layanan email langsung dengan cara subscribe melalui panel Google Group yang tersedia di bagian bawah halaman ini.
© 2006, 2007 Setya Rahadi. Lightbreakfast, adalah catatan perenungan pribadi dengan pesan-pesan singkat, universal dan konstruktif untuk teman minum kopi di pagi hari. Layaknya fast-food, silahkan menyantapnya di tempat atau mengunduh - take away isi blog ini sesuka Anda. Cantumkan sumber apabila Anda mengutip dan mengirimkan ke pihak lain. Kisah-kisah yang dituliskan dalam lighbreakfast diilhami oleh penggalan kisah nyata sehari-hari, dengan penyesuaian seperlunya. Kadang nama tempat atau nama orang ditulis apa adanya, tetapi dalam banyak hal, untuk kepentingan privacy, nama tempat atau nama orang tidak disebutkan secara gamblang. Nama samaran banyak dipakai demi enaknya cerita. Mohon maaf untuk kesamaan tokoh, tempat dan cerita yang mungkin terjadi.